Yui Chan Say

Friday, September 27, 2013

Dating With The Dark || Chap 1

Title : Dating With The Dark

Rated : M

Length : 1/?

Main Cast : SungMin || KyuHyun || DongHae || HyoRin || HyukJae

Warning : YAOI || NC || Typo (s)

AN : #Cerita ini milik mbak Shanty Aghata, saya hanya mengganti nama dan sedikit mengubah alurnya, supaya mendekati main cast dan tema cerita

Happy Reading ^^


oOo KyuMin oOo


-Empat bulan sebelumnya-

Sungmin baru saja pulang dari kerja, dihempaskan badannya ke sofa coklat di tengah ruangan dirumah mungilnya. Sulur-sulur yang merambat di depan jendela menghalangi cahaya matahari jingga yang terpekur sebelum terbenam. Dipejamkannya kedua mata, lalu menghela napas panjang, berusaha untuk santai. Biarpun memejamkan mata, Sungmin masih tersenyum, teringat Donghae dan obrolan ringan mereka.

Sungmin termenung dalam senyuman yang tak kunjung hilang di bibirnya. Sejak pertama dia dikenalkan dengan Donghae, salah satu  karyawan baru di divisinya, dia langsung menaruh perhatian lebih pada pria innocent tersebut.

Siang tadi, Donghae tiba-tiba mendekatinya ketika Sungmin sedang menuang air panas dari dispenser ke cangkir berisi kopi instantnya, Aroma kopi langsung menguar, memenuhi ruangan,menciptakan keharuman yang menyenangkan. Donghae menyapanya biasa-biasa saja, dan entah kenapa Sungmin sedikit salah tingkah menghadapinya. Tetapi kemudian lelaki itu bertanya apakah Sungmin ada kegiatan di akhir pekan ini – yang langsung dijawab Sungmin bahwa dia tidak kemana-mana – Dan kemudian ajakan kencan itu datang – dia pikir begitu –. Donghae mengajaknya ke sebuah acara pameran komputer di sudut kota.

Dan ternyata ‘kencan’ pertama mereka itu berakhir dengan sukses, ketika Donghae tersenyum lembut di depan pintu rumah Sungmin, dan mengucap terimakasih atas kebersamaan mereka di akhir kencan, Sungmin membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang dibawanya bahkan sampai menjelang tidur malam itu.

Kencan... Sungmin membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan rumahnya. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya sampai akhir-akhir ini. Sejak kecelakaan yang menyebabkan ayahnya meninggal, Sungmin mencoba menyibukkan diri untuk mengurus harta peninggalannya. Tetapi bisa dibilang pengacara ayahnya yang mengurusi semuanya, menjual semua kenangan indah itu, karena Sungmin tidak mampu untuk sekedar melihatnya....karena dia terlalu lama tenggelam dalam kepedihan.

Sambil menghela napas panjang, Sungmin berdiri, lalu melangkah ke dapur, menuangkan kopi  dari mesin pembuat kopi ke cangkirnya, kopi itu sudah tidak panas lagi, karena itu adalah sisa dari kopi yang dibuatnya dipagi hari sebelum berangkat kerja. Tetapi Sungmin masih bisa merasakan rasa asam khas kopi yang nikmat di sana. Dahinya mengernyit dan menghela napas, dia hampir-hampir bisa disebut kecanduan kopi. Pagi, siang dan malam... dia tidak bisa hidup tanpa menuang secangkir kopi untuk mengisi lambungnya yang kadang-kadang menolak dan berunjuk rasa dengan rasa perih yang menggigit disana.

Tetapi Sungmin butuh membuka matanya. Sejak kematian ayahnya, pria berambut pirang itu hampir terlalu takut untuk tidur. Benaknya dipenuhi ketakutan, ketakutan yang dia tidak tahu karena apa...... ketakutan itu seperti menyimpan rahasia gelap yang mengerikan. Membuat Sungmin dipenuhi ketakutan setiap malam, takut kalau-kalau kegelapan itu menyergapnya ketika dia memejamkan mata.

Sungmin sudah menghubungi psikiater yang merawatnya sejak kejadian kecelakaan itu, kata psikiater, rasa takut tanpa alasan yang dirasakan Sungmin hanyalah efek manifestasi trauma atas kecelakaan yang menyebabkan dia terluka parah, dan menewaskan ayahnya. Psikiater itu merawatnya dengan baik, session demi session, sampai kemudian Sungmin merasa dirinya sudah sembuh, bebas, dan bahagia tanpa ketakutan yang menghantui.
Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Sungmin mendesah dalam keheningan. Dia sudah bebas. Sekarang dia bisa memulai hidup yang baru, bisa mencoba membuka hati dan jatuh cinta lagi.

Rasa takut itu sudah ditinggalkannya jauh-jauh. Dia bebas sekarang, tidak akan ada lagi kegelapan yang mengintai dan berusaha menyakitinya. Mungkin memang cahaya terang sudah memasuki kehidupannya. Sungmin tersenyum, membayangkan jalan indah yang mungkin akan dilaluinya bersama Donghae nanti


oOo JOY oOo


Sungmin duduk siang itu menghadap pot bunga yang tersusun rapi di teras cafe yang cukup ramai dengan pengunjung. Diliriknya jam tangan dipergelangan kirinya, masih 15 menit lagi sebelum orang itu datang. Disiapkan kembali beberapa surat perjanjian kontrak, dicek kembali beberapa helai materai yang akan diperlukan nanti.

It's all set, Sungmin membatin.

Ini aneh, karena sang klien meminta penandatanganan kontrak di sebuah cafe eksklusif yang sangat privat, biasanya para klien memilih menandatangani kontrak di ruang rapat kantor pusat mereka yang sudah disediakan. Tetapi bagaimanapun juga, bosnya mengatakan bahwa ini adalah klien penting, dan apapun permintaannya sesulit apapun itu, harus dituruti.

Suara berisik di pintu membuatnya menoleh. Beberapa lelaki berpakaian hitam-hitam tampak memasuki ruangan, ekspresi mereka semua sama, datar dan kosong, membuat Sungmin merinding. Dia memandang ke sekeliling dan terkejut, cafe itu beberapa saat tadi tampak cukup ramai, tetapi sekarang, tidak ada satu orangpun di sana, suasana cukup lengang dan tidak ada aktivitas apapun, selain beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang terus menerus masuk, dan berdiri dengan kaku, hampir membentuk barisan,seolah-olah mereka memberi jalan untuk seseorang.

Satu.. dua ...tiga... Sungmin menghitung jumlah orang-orang berpakaian hitam-hitam itu, seluruhnya ada dua puluh orang. Siapakah gerangan yang membawa dua puluh orang pegawai, memberi mereka pakaian yang sama dan membuat mereka memasang ekspresi sama?.

Rupanya Sungmin tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawabannya, dipintu, masuklah seorang lelaki tua, berpakaian putih-putih, sangat kontras dengan penampilan para pegawainya, dan langsung melangkah menuju Sungmin.

Inikah klien penting mereka? Tiba-tiba Sungmin gemetar karena meskipun sudah tua, lelaki itu masih menguarkan aura mendominasi yang sedikit menyesakkan dada.

Lelaki itu berdiri, mengamati Sungmin lalu mengangkat alisnya.

“Lee Sungmin?”

Tiba-tiba Sungmin tersadar bahwa dia tidak sopan karena tetap duduk sementara sang klien penting masih berdiri di depannya. Dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya dengan sopan.

“Betul. Saya Sungmin. Anda Tuan Kim Youngmin?”

Seulas senyum yang tak disangka muncul di bibir lelaki tua itu saat membalas uluran tangan Sungmin,  “Betul,Mari kita langsung bicarakan bisnis di sini.”

Lelaki itu duduk, sementara Sungmin melirik orang-orang berpakaian hitam-hitam yang tetap berdiri tanpa ekspresi di sana, merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Tetapi lelaki itu rupanya sudah terbiasa, karena dia langsung membuka percakapan ke arah bisnis, “Seluruh kontrak sudah disiapkan?”

“Sudah.” Sungmin membuka map itu dan menyerahkannya ke lelaki tua itu. Tuan Youngmin langsung menerima dan memeriksa isinya, dahinya berkerut dalam ketika menelaah setiap klausul yang ada. Setelah lama, dia mengangkat matanya dan tersenyum.

“Bagus. Sesuai permintaan. Dimana saya harus tanda tangan?”

Jantung Sungmin yang sedari tadi menunggu dengan tegang langsung terasa lega, seolah napasnya meluncur dalam dan mengosongkan rongga dadanya. Dengan tangan agak gemetar, dia menunjuk ruang kosong yang sudah diisi dengan materai.Sebentar lagi tender untuk kontrak paling penting di perusahaannya akan ditandatangani.

Lelaki itu meraih pena emas dari saku jas putihnya dan kemudian dengan tenang dia menandatangani di tempat itu dan juga diseluruh bagian yang ditunjukkan Sungmin, berkas asli dan beberapa salinannya.  Setelahnya dia tersenyum, menyerahkan map kertas itu kepada Sungmin, memasukan pena emas ke sakunya dan kemudian langsung berdiri.

“Senang berbisnis dengan anda, sampaikan salam untuk atasan anda.”

Kemudian lelaki tua itu berbalik, melangkah meninggalkan Sungmin yangmasih termangu melihat langkah-langkahnya pergi. Para pegawainya yang berpakaian hitam-hitam langsung mengikutinya. Setelah semuanya pergi, café menjadi lengang, hanya Sungmin yang duduk di sana. Bahkan para pegawai café seolah-olah lenyap ditelan bumi.

Sungmin termangu, lalu mengemasi seluruh berkas penting itu, dan memasukkannya dengan teliti ke dalam map. Berkas ini sangat berharga dia harus menjaganya baik-baik dan memastikan tidak ada yang terlewat di sana. Setelah semuanya rapi, dia melangkah berdiri, menoleh ke kiri dan kekanan dengan bingung karena tak ada seorangpun di dalam sana. Kemudian setelah menghela napas panjang, dia meninggalkan uang di meja dan melangkah pergi.

Hatinya tenang dan lega karena sudah menyelesaikan tugas terpenting dari atasannya. Dia sudah tidak memikirkan lelaki tua itu lagi karena Sungmin merasa dia tidak akan bertemu dengannya lagi.

Tidak disadarinya bahwa dia salah. Lelaki tua itu masih akan muncul dalam kehidupannya nanti di masa depan.


oOo 137 oOo


Donghae mendekatinya siang itu dengan senyum lebarnya yang khas, “Kudengar kau meng-goalkan kontrak kerja paling hebat tahun ini.”

Sungmin tersenyum kikuk mendengar sapaan Donghae itu. Semua orang memujinya, padahal yang dilakukannya hanya datang dan membawa berkas untuk ditandatangani seperti yang diperintahkan oleh atasannya. Dan Sungmin sendiri menolak semua pujian itu. Goal atas tender besar itu bukan atas usahanya, melainkan atas usaha dari atasan-atasannya yang melakukan negosiasi dengan penuh upaya. Yang dilakukan Sungmin hanyalah sentuhan akhirnya, menyiapkan semua kontrak dan surat perjanjian sesuai keahliannya, lalu memastikan bahwa itu ditandatangani.

“Itu semua bukan hanya karena aku.” Jawab Sungmin manis.

Donghae tertawa mendengarnya dan mengangkat bahu, “Apapun itu, kau telah berhasil, dan kurasa kita pantas merayakannya.”

“Merayakannya?”

“Ya. Kau dan aku, makan malam bersama.”

“Makan malam bersama?”

Kali ini Donghae tergelak geli, “Sungmin, kau mengulangi setiap kata-kataku.”

Pipi Sungmin memerah, menyadari kekonyolan sikapnya. Tetapi Donghae malahan tampak geli, dia mengedipkan sebelah matanya menggoda,

“Bagaimana? Mau makan malam bersamaku malam ini?”

Mata Sungmin berbinar, dadanya terasa hangat, dia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, “Ya, aku mau.”

Rasanya hari itu Sungmin seperti lahir kembali, yang semula selalu bersembunyi dalam kegelapan, sekarang ditarik menuju cahaya terang yang menyilaukan bersama Donghae.


oOo ChoLee oOo


Sungmin berdiri dengan gugup di depan cermin, kebingungan. Dia sudah mencoba tiga macam pakaian dan entah kenapa tidak ada satupun yang terasa cocok untuknya. Yang sekarang dia pakai adalah kemeja warna biru gelap yang ia padukan dengan jas putih.

Sepertinya pakaian ini yang paling cocok. Sungmin membatin. Dia tidak tahu kemana Donghae akan membawanya makan malam, mungkin di tempat santai, tetapi bisa juga di tempat yang formal. Dimana pun itu, pakaian ini adalah pilihan yang paling aman, mampu nampak formal sekaligus santai.
Setelah menyisir rambutnya, Sungmin memakai sepatu warna putih miliknya, dan menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya, sebelum meraih tas-nya dan melangkah ke luar kamar.

Tepat pada saat itu, bel pintu berbunyi.

Itu pasti Donghae. Dengan sedikit bersemangat Sungmin melangkah ke arah pintu, untuk kemudian langkahnya terhenti mendadak, entah kenapa merasa ragu. Sungmin mengernyit dan mendesah jengkel, rasa takutnya ternyata masih tersisa, bermanifestasi menjadi rasa waspada dan curiga. Dia mengintip ke lubang pengintai di pintu, dan melihat Donghae berdiri di sana. Sungmin mendesah, dia kesal akan ketakutan bodohnya yang tidak beralasan ini. Setelah menghela napas panjang, Sungmin membuka pintu dan berusaha tersenyum ceria.
Well sebenarnya Sungmin tidak perlu terlalu berusaha untuk ceria, senyum manis Donghae ketika melihatnya, dan binar mata Donghae yang menunjukkan pujiannya akan penampilan Sungmin, membuat Sungmin merasa tersipu dan bahagia, entah kenapa.

Donghae berdehem dan mengangkat alisnya, “Mungkin aku akan sibuk malam ini.”

“Sibuk?” Sungmin menatap Donghae bingung.

Donghae tersenyum penuh arti, “Aku akan sibuk mengusir orang-orang yang melirikmu dan mencoba mendekatimu karena penampilanmu ini sangat cantik.” Donghae mengedipkan sebelah matanya dan setengah membungkuk, “Terimakasih sudah maumakan malam bersamaku, Sungmin.”

Sungmin tergelak mendengar rayuan Donghae yang dibalut dalam canda itu. Ketika Donghae mengulurkan tangannya dan mengajaknya memasuki mobil, Sungmin mengikutinya dengan langkah ringan dan tanpa beban.


oOo KyuMin oOo


Ruangan itu tampak mewah, dihiasi oleh barang-barang berkelas,menunjukkan kekayaan pemiliknya, Cho Kyuhyun yang sekarang sedang dudukdi sebuah kursi besar. Wajahnya tampak muram.

“Well?” Youngmin yang duduk di depan lelaki berwajah murung itu, “Dia bahkan tidak mengenalimu ketika kau berdiri menyamar dan berpakaian serupa seperti para pengawalku.”

Kyuhyun mengangkat alisnya, ekspresi sinis yang menawan muncul dimatanya yang gelap pekat, dia setengah mendengus ketika berkata, “Aku memang tidak mengharapkan dia mengenaliku.”

“Jadi bagaimana sekarang?” Youngmin menatap  Kyuhyun dengan senyuman menggoda. “Pria manis itu tidak menyadari betapa beruntungnya dia. Tidak ada yangpernah lolos dari targetmu, Kyuhyun, kau adalah lelaki yang terkenal sebagai sang pembunuh berdarah dingin. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisamembuatmu menghancurkan reputasimu : sebagai yang tak pernah gagal dalam melaksanakan misimu.”

Youngmin melemparkan pandangan memancing, “Akankah kau akan membiarkannya bebas dan tidak pernah tahu bahaya yang sedang mengintainya, ataukah kau akan menuntaskan tugasmu dan melenyapkannya seperti yang seharusnya terjadi?”

Kyuhyun tidak terpancing tentu saja. Dia sangat mengenal Youngmin,lelaki tua itu adalah mentor sekaligus sahabatnya, Youngmin sangat suka memancing orang lain lalu menilai dengan ahli setelah melihat tanggapan orang itu. Hal itulah yang menyebabkan Youngmin sangat sukses dalam bisnisnya, dia punya kemampuan jenius untuk menilai orang lain sampai ke dalam-dalamnya. Karena itulah Kyuhyun memasang ekspersi dingin dan tidak terbaca, bersikap sesantai mungkin.

“Waktunya akan tiba nanti.” Gumamnya seolah tak peduli.


………. TBC ………..

No comments:

Post a Comment