Yui Chan Say

Friday, September 27, 2013

Dating With The Dark || Chap 1

Title : Dating With The Dark

Rated : M

Length : 1/?

Main Cast : SungMin || KyuHyun || DongHae || HyoRin || HyukJae

Warning : YAOI || NC || Typo (s)

AN : #Cerita ini milik mbak Shanty Aghata, saya hanya mengganti nama dan sedikit mengubah alurnya, supaya mendekati main cast dan tema cerita

Happy Reading ^^


oOo KyuMin oOo


-Empat bulan sebelumnya-

Sungmin baru saja pulang dari kerja, dihempaskan badannya ke sofa coklat di tengah ruangan dirumah mungilnya. Sulur-sulur yang merambat di depan jendela menghalangi cahaya matahari jingga yang terpekur sebelum terbenam. Dipejamkannya kedua mata, lalu menghela napas panjang, berusaha untuk santai. Biarpun memejamkan mata, Sungmin masih tersenyum, teringat Donghae dan obrolan ringan mereka.

Sungmin termenung dalam senyuman yang tak kunjung hilang di bibirnya. Sejak pertama dia dikenalkan dengan Donghae, salah satu  karyawan baru di divisinya, dia langsung menaruh perhatian lebih pada pria innocent tersebut.

Siang tadi, Donghae tiba-tiba mendekatinya ketika Sungmin sedang menuang air panas dari dispenser ke cangkir berisi kopi instantnya, Aroma kopi langsung menguar, memenuhi ruangan,menciptakan keharuman yang menyenangkan. Donghae menyapanya biasa-biasa saja, dan entah kenapa Sungmin sedikit salah tingkah menghadapinya. Tetapi kemudian lelaki itu bertanya apakah Sungmin ada kegiatan di akhir pekan ini – yang langsung dijawab Sungmin bahwa dia tidak kemana-mana – Dan kemudian ajakan kencan itu datang – dia pikir begitu –. Donghae mengajaknya ke sebuah acara pameran komputer di sudut kota.

Dan ternyata ‘kencan’ pertama mereka itu berakhir dengan sukses, ketika Donghae tersenyum lembut di depan pintu rumah Sungmin, dan mengucap terimakasih atas kebersamaan mereka di akhir kencan, Sungmin membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang dibawanya bahkan sampai menjelang tidur malam itu.

Kencan... Sungmin membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan rumahnya. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya sampai akhir-akhir ini. Sejak kecelakaan yang menyebabkan ayahnya meninggal, Sungmin mencoba menyibukkan diri untuk mengurus harta peninggalannya. Tetapi bisa dibilang pengacara ayahnya yang mengurusi semuanya, menjual semua kenangan indah itu, karena Sungmin tidak mampu untuk sekedar melihatnya....karena dia terlalu lama tenggelam dalam kepedihan.

Sambil menghela napas panjang, Sungmin berdiri, lalu melangkah ke dapur, menuangkan kopi  dari mesin pembuat kopi ke cangkirnya, kopi itu sudah tidak panas lagi, karena itu adalah sisa dari kopi yang dibuatnya dipagi hari sebelum berangkat kerja. Tetapi Sungmin masih bisa merasakan rasa asam khas kopi yang nikmat di sana. Dahinya mengernyit dan menghela napas, dia hampir-hampir bisa disebut kecanduan kopi. Pagi, siang dan malam... dia tidak bisa hidup tanpa menuang secangkir kopi untuk mengisi lambungnya yang kadang-kadang menolak dan berunjuk rasa dengan rasa perih yang menggigit disana.

Tetapi Sungmin butuh membuka matanya. Sejak kematian ayahnya, pria berambut pirang itu hampir terlalu takut untuk tidur. Benaknya dipenuhi ketakutan, ketakutan yang dia tidak tahu karena apa...... ketakutan itu seperti menyimpan rahasia gelap yang mengerikan. Membuat Sungmin dipenuhi ketakutan setiap malam, takut kalau-kalau kegelapan itu menyergapnya ketika dia memejamkan mata.

Sungmin sudah menghubungi psikiater yang merawatnya sejak kejadian kecelakaan itu, kata psikiater, rasa takut tanpa alasan yang dirasakan Sungmin hanyalah efek manifestasi trauma atas kecelakaan yang menyebabkan dia terluka parah, dan menewaskan ayahnya. Psikiater itu merawatnya dengan baik, session demi session, sampai kemudian Sungmin merasa dirinya sudah sembuh, bebas, dan bahagia tanpa ketakutan yang menghantui.
Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Sungmin mendesah dalam keheningan. Dia sudah bebas. Sekarang dia bisa memulai hidup yang baru, bisa mencoba membuka hati dan jatuh cinta lagi.

Rasa takut itu sudah ditinggalkannya jauh-jauh. Dia bebas sekarang, tidak akan ada lagi kegelapan yang mengintai dan berusaha menyakitinya. Mungkin memang cahaya terang sudah memasuki kehidupannya. Sungmin tersenyum, membayangkan jalan indah yang mungkin akan dilaluinya bersama Donghae nanti


oOo JOY oOo


Sungmin duduk siang itu menghadap pot bunga yang tersusun rapi di teras cafe yang cukup ramai dengan pengunjung. Diliriknya jam tangan dipergelangan kirinya, masih 15 menit lagi sebelum orang itu datang. Disiapkan kembali beberapa surat perjanjian kontrak, dicek kembali beberapa helai materai yang akan diperlukan nanti.

It's all set, Sungmin membatin.

Ini aneh, karena sang klien meminta penandatanganan kontrak di sebuah cafe eksklusif yang sangat privat, biasanya para klien memilih menandatangani kontrak di ruang rapat kantor pusat mereka yang sudah disediakan. Tetapi bagaimanapun juga, bosnya mengatakan bahwa ini adalah klien penting, dan apapun permintaannya sesulit apapun itu, harus dituruti.

Suara berisik di pintu membuatnya menoleh. Beberapa lelaki berpakaian hitam-hitam tampak memasuki ruangan, ekspresi mereka semua sama, datar dan kosong, membuat Sungmin merinding. Dia memandang ke sekeliling dan terkejut, cafe itu beberapa saat tadi tampak cukup ramai, tetapi sekarang, tidak ada satu orangpun di sana, suasana cukup lengang dan tidak ada aktivitas apapun, selain beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang terus menerus masuk, dan berdiri dengan kaku, hampir membentuk barisan,seolah-olah mereka memberi jalan untuk seseorang.

Satu.. dua ...tiga... Sungmin menghitung jumlah orang-orang berpakaian hitam-hitam itu, seluruhnya ada dua puluh orang. Siapakah gerangan yang membawa dua puluh orang pegawai, memberi mereka pakaian yang sama dan membuat mereka memasang ekspresi sama?.

Rupanya Sungmin tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawabannya, dipintu, masuklah seorang lelaki tua, berpakaian putih-putih, sangat kontras dengan penampilan para pegawainya, dan langsung melangkah menuju Sungmin.

Inikah klien penting mereka? Tiba-tiba Sungmin gemetar karena meskipun sudah tua, lelaki itu masih menguarkan aura mendominasi yang sedikit menyesakkan dada.

Lelaki itu berdiri, mengamati Sungmin lalu mengangkat alisnya.

“Lee Sungmin?”

Tiba-tiba Sungmin tersadar bahwa dia tidak sopan karena tetap duduk sementara sang klien penting masih berdiri di depannya. Dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya dengan sopan.

“Betul. Saya Sungmin. Anda Tuan Kim Youngmin?”

Seulas senyum yang tak disangka muncul di bibir lelaki tua itu saat membalas uluran tangan Sungmin,  “Betul,Mari kita langsung bicarakan bisnis di sini.”

Lelaki itu duduk, sementara Sungmin melirik orang-orang berpakaian hitam-hitam yang tetap berdiri tanpa ekspresi di sana, merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Tetapi lelaki itu rupanya sudah terbiasa, karena dia langsung membuka percakapan ke arah bisnis, “Seluruh kontrak sudah disiapkan?”

“Sudah.” Sungmin membuka map itu dan menyerahkannya ke lelaki tua itu. Tuan Youngmin langsung menerima dan memeriksa isinya, dahinya berkerut dalam ketika menelaah setiap klausul yang ada. Setelah lama, dia mengangkat matanya dan tersenyum.

“Bagus. Sesuai permintaan. Dimana saya harus tanda tangan?”

Jantung Sungmin yang sedari tadi menunggu dengan tegang langsung terasa lega, seolah napasnya meluncur dalam dan mengosongkan rongga dadanya. Dengan tangan agak gemetar, dia menunjuk ruang kosong yang sudah diisi dengan materai.Sebentar lagi tender untuk kontrak paling penting di perusahaannya akan ditandatangani.

Lelaki itu meraih pena emas dari saku jas putihnya dan kemudian dengan tenang dia menandatangani di tempat itu dan juga diseluruh bagian yang ditunjukkan Sungmin, berkas asli dan beberapa salinannya.  Setelahnya dia tersenyum, menyerahkan map kertas itu kepada Sungmin, memasukan pena emas ke sakunya dan kemudian langsung berdiri.

“Senang berbisnis dengan anda, sampaikan salam untuk atasan anda.”

Kemudian lelaki tua itu berbalik, melangkah meninggalkan Sungmin yangmasih termangu melihat langkah-langkahnya pergi. Para pegawainya yang berpakaian hitam-hitam langsung mengikutinya. Setelah semuanya pergi, café menjadi lengang, hanya Sungmin yang duduk di sana. Bahkan para pegawai café seolah-olah lenyap ditelan bumi.

Sungmin termangu, lalu mengemasi seluruh berkas penting itu, dan memasukkannya dengan teliti ke dalam map. Berkas ini sangat berharga dia harus menjaganya baik-baik dan memastikan tidak ada yang terlewat di sana. Setelah semuanya rapi, dia melangkah berdiri, menoleh ke kiri dan kekanan dengan bingung karena tak ada seorangpun di dalam sana. Kemudian setelah menghela napas panjang, dia meninggalkan uang di meja dan melangkah pergi.

Hatinya tenang dan lega karena sudah menyelesaikan tugas terpenting dari atasannya. Dia sudah tidak memikirkan lelaki tua itu lagi karena Sungmin merasa dia tidak akan bertemu dengannya lagi.

Tidak disadarinya bahwa dia salah. Lelaki tua itu masih akan muncul dalam kehidupannya nanti di masa depan.


oOo 137 oOo


Donghae mendekatinya siang itu dengan senyum lebarnya yang khas, “Kudengar kau meng-goalkan kontrak kerja paling hebat tahun ini.”

Sungmin tersenyum kikuk mendengar sapaan Donghae itu. Semua orang memujinya, padahal yang dilakukannya hanya datang dan membawa berkas untuk ditandatangani seperti yang diperintahkan oleh atasannya. Dan Sungmin sendiri menolak semua pujian itu. Goal atas tender besar itu bukan atas usahanya, melainkan atas usaha dari atasan-atasannya yang melakukan negosiasi dengan penuh upaya. Yang dilakukan Sungmin hanyalah sentuhan akhirnya, menyiapkan semua kontrak dan surat perjanjian sesuai keahliannya, lalu memastikan bahwa itu ditandatangani.

“Itu semua bukan hanya karena aku.” Jawab Sungmin manis.

Donghae tertawa mendengarnya dan mengangkat bahu, “Apapun itu, kau telah berhasil, dan kurasa kita pantas merayakannya.”

“Merayakannya?”

“Ya. Kau dan aku, makan malam bersama.”

“Makan malam bersama?”

Kali ini Donghae tergelak geli, “Sungmin, kau mengulangi setiap kata-kataku.”

Pipi Sungmin memerah, menyadari kekonyolan sikapnya. Tetapi Donghae malahan tampak geli, dia mengedipkan sebelah matanya menggoda,

“Bagaimana? Mau makan malam bersamaku malam ini?”

Mata Sungmin berbinar, dadanya terasa hangat, dia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, “Ya, aku mau.”

Rasanya hari itu Sungmin seperti lahir kembali, yang semula selalu bersembunyi dalam kegelapan, sekarang ditarik menuju cahaya terang yang menyilaukan bersama Donghae.


oOo ChoLee oOo


Sungmin berdiri dengan gugup di depan cermin, kebingungan. Dia sudah mencoba tiga macam pakaian dan entah kenapa tidak ada satupun yang terasa cocok untuknya. Yang sekarang dia pakai adalah kemeja warna biru gelap yang ia padukan dengan jas putih.

Sepertinya pakaian ini yang paling cocok. Sungmin membatin. Dia tidak tahu kemana Donghae akan membawanya makan malam, mungkin di tempat santai, tetapi bisa juga di tempat yang formal. Dimana pun itu, pakaian ini adalah pilihan yang paling aman, mampu nampak formal sekaligus santai.
Setelah menyisir rambutnya, Sungmin memakai sepatu warna putih miliknya, dan menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya, sebelum meraih tas-nya dan melangkah ke luar kamar.

Tepat pada saat itu, bel pintu berbunyi.

Itu pasti Donghae. Dengan sedikit bersemangat Sungmin melangkah ke arah pintu, untuk kemudian langkahnya terhenti mendadak, entah kenapa merasa ragu. Sungmin mengernyit dan mendesah jengkel, rasa takutnya ternyata masih tersisa, bermanifestasi menjadi rasa waspada dan curiga. Dia mengintip ke lubang pengintai di pintu, dan melihat Donghae berdiri di sana. Sungmin mendesah, dia kesal akan ketakutan bodohnya yang tidak beralasan ini. Setelah menghela napas panjang, Sungmin membuka pintu dan berusaha tersenyum ceria.
Well sebenarnya Sungmin tidak perlu terlalu berusaha untuk ceria, senyum manis Donghae ketika melihatnya, dan binar mata Donghae yang menunjukkan pujiannya akan penampilan Sungmin, membuat Sungmin merasa tersipu dan bahagia, entah kenapa.

Donghae berdehem dan mengangkat alisnya, “Mungkin aku akan sibuk malam ini.”

“Sibuk?” Sungmin menatap Donghae bingung.

Donghae tersenyum penuh arti, “Aku akan sibuk mengusir orang-orang yang melirikmu dan mencoba mendekatimu karena penampilanmu ini sangat cantik.” Donghae mengedipkan sebelah matanya dan setengah membungkuk, “Terimakasih sudah maumakan malam bersamaku, Sungmin.”

Sungmin tergelak mendengar rayuan Donghae yang dibalut dalam canda itu. Ketika Donghae mengulurkan tangannya dan mengajaknya memasuki mobil, Sungmin mengikutinya dengan langkah ringan dan tanpa beban.


oOo KyuMin oOo


Ruangan itu tampak mewah, dihiasi oleh barang-barang berkelas,menunjukkan kekayaan pemiliknya, Cho Kyuhyun yang sekarang sedang dudukdi sebuah kursi besar. Wajahnya tampak muram.

“Well?” Youngmin yang duduk di depan lelaki berwajah murung itu, “Dia bahkan tidak mengenalimu ketika kau berdiri menyamar dan berpakaian serupa seperti para pengawalku.”

Kyuhyun mengangkat alisnya, ekspresi sinis yang menawan muncul dimatanya yang gelap pekat, dia setengah mendengus ketika berkata, “Aku memang tidak mengharapkan dia mengenaliku.”

“Jadi bagaimana sekarang?” Youngmin menatap  Kyuhyun dengan senyuman menggoda. “Pria manis itu tidak menyadari betapa beruntungnya dia. Tidak ada yangpernah lolos dari targetmu, Kyuhyun, kau adalah lelaki yang terkenal sebagai sang pembunuh berdarah dingin. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisamembuatmu menghancurkan reputasimu : sebagai yang tak pernah gagal dalam melaksanakan misimu.”

Youngmin melemparkan pandangan memancing, “Akankah kau akan membiarkannya bebas dan tidak pernah tahu bahaya yang sedang mengintainya, ataukah kau akan menuntaskan tugasmu dan melenyapkannya seperti yang seharusnya terjadi?”

Kyuhyun tidak terpancing tentu saja. Dia sangat mengenal Youngmin,lelaki tua itu adalah mentor sekaligus sahabatnya, Youngmin sangat suka memancing orang lain lalu menilai dengan ahli setelah melihat tanggapan orang itu. Hal itulah yang menyebabkan Youngmin sangat sukses dalam bisnisnya, dia punya kemampuan jenius untuk menilai orang lain sampai ke dalam-dalamnya. Karena itulah Kyuhyun memasang ekspersi dingin dan tidak terbaca, bersikap sesantai mungkin.

“Waktunya akan tiba nanti.” Gumamnya seolah tak peduli.


………. TBC ………..

Dating With The Dark || Prolog

Title : Dating With The Dark

Rated : M

Length : 1/?

Main Cast : SungMin || KyuHyun || DongHae || HyoRin || HyukJae || Others

Warning : YAOI || NC || Typo (s)

AN: #Cerita ini milik mbak Shanty Aghata, saya hanya mengganti nama dan sedikit mengubah alurnya, supaya mendekati main cast dan tema cerita.

Happy Reading ^^


oOo KyuMin oOo



PROLOG


Ketika malam itu bergayut, Sungmin duduk termenung di atas ranjang, entah kenapa malam ini tidak seperti biasanya. Sungmin merasa ngeri, rasa ngeri ini hampir sama dengan kengerian yang selalu menyerangnya di malam-malam dulu. Burung di pepohonan depan yang rimbun berbunyi-bunyi dengan suara menakutkan,mencicit seolah memberi pertanda.

Tetapi pertanda apa? 

Sungmin bolak-balik memeriksa alarm pintunya, dan menghela napas panjang. Alarm sudah terpasang dengan sempurna, pintu sudah tertutup rapat dengan kunci dan gerendel terpasang. 

Kenapa dia tetap merasa takut?

Sungmin masuk lagi ke kamar, mengunci pintu kamarnya dan berbaring, menarik selimutnya sampai ke punggung. Seharusnya dia sudah merasa bebas, seharusnya dia tidak didera ketakutan lagi. Tetapi kenapa perasaan ini sama? Rasanya sama seperti dulu... jauh di masa lalu, dimana kenangan buruk menyeruak, kenangan yang sangat ingin dilupakannya.

Tiba-tiba terdengar suara keras di pintu belakang rumahnya. Sungmin begitu terperanjat sampai terlompat dari tempat tidurnya. Jantungnya berdebar dengan keras, dia menatap ke arah pintunya dan meringis....

Apakah dia tadi sudah mengunci pintu kamarnya...?Apakah ada seseorang yang menerobos pintu belakangnya? Bagaimana kalau orangitu masuk ke kamarnya? 

Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Sungmin melompat panik, dan kemudian memeriksa kunci pintu kamarnya.

Terkunci.... tentu saja.. .

Sungmin menghela napas panjang, dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Lama dia menunggu, mungkin akan ada suara-suara lagi diluar sambil menahankan debaran jantungnya yang membuatnya makin sesak napas.

Tetapi suasana sungguh hening, tidak ada suara apapun. Sungmin bahkan merasa bahwa dia hampir mendengar debaran jantungnya sendiri yang berpacu dengan begitu kuatnya.

Apakah suara di pintu belakangnya tadi hanyalah halusinasinya? 

Setelah menghela napas panjang, Sungmin membuka kunci pintunya. Dia tahu bahwa dia telah melakukan tindakan bodoh seperti di film-film horor yang sering dilihatnya, mendengar suara aneh... bukannya lari dan bersembunyi tetapi malahan mendatangi bagaikan ngengat yang tertarik mendatangi api yang akan membunuhnya.

Rumah Sungmin kecil sehingga kamarnya langsung mengarah ke ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga dengan TV besar mendominasi bagian tengahnya, lalu ada lorong kecil ke area dapur.... dapur tempat suara itu berasal.

Sungmin menyalakan lampu ruang tengah dan menghela napas panjang ketika menyadari bahwa tidak ada siapapun di sana. Jantungnya makin berdebar ketikamenunggu melangkah ke arah dapur.... di sana gelap dan pekat. Dengan hati-hati Sungmin menyalakan saklar lampu tetapi langsung mengerutkan kening ketakutan ketika saklar itu putus. Lampu dapur tidak menyala dan Sungmin mengernyit menyadari kegelapan di depannya. Tangannya meraba-raba mencari ponsel yang tadi sempat dimasukkannya ke dalam saku piyama.

Dengan pencahayaan ponsel yang seadanya, Sungmin melangkah maju memasuki area dapur itu. Cahayanya gelap dan remang-remang, membuat Sungmin merasakan bulu kuduknya berdiri.
Tampaknya di dapur tidak ada siapapun. Tetapi kemudian mata Sungmin terpaku pada sesuatu di dapur. Sesuatu yang membuat jantungnya berpacu cepat dan wajahnya pucat pasi. Sesuatu yang memancarkan cahaya lembut berwarna kuning redup terselubungi lilin yang berwarna biru.

Masa tenang kehidupannya sudah berakhir..... impian untuk menjalani hari-harinya seperti orang biasa musnah sudah. 

Sungmin berpegangan ke dinding untuk menopang kakinya yang gemetaran, matanya menatap ke arah benda itu. Sebuah tanda..... tanda yang samar-samar menyeruak ke dalam alam bawah sadarnya, menarik ingatan Sungmin yang telah lama hilang dan mengingatkannya.

Seketika pengetahuan mendalam muncul di benak Sungmin, membuatnya merasakan ngeri yang luar biasa. Lilin berwarna biru yang menyala itu adalah tanda, tanda yang ditinggalkan oleh sang pembunuh paling kejam yang dia tahu entah kenapa.

Pembunuh itu sudah menemukannya....
Selesailah sudah. Nyawa Sungmin mungkin tinggal beberapa saat lagi tercabut. Matanya melirik ketakutan ke arah tanda di meja dapurnya.

Lilin berwarna biru itu.....jumlahnya ada sembilan buah... diletakkan dengan rapi dan diatur indah setengah lingkaran di atas meja dapurnya, cahaya redupnya tampak kontras dengan ruangan dapur yang gelap gulita....

Lalu seperti muncul begitu saja dari bayangan gelap di belakangnya, jemari yang kuat tiba-tiba menyentuh lehernya dari belakang, lembut dan tenang.Sungmin tercekat, tetapi tidak bisa memberontak, pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanyalah memejamkan matanya.


oOo JOY oOo


Tanpa perlawanan yang berarti tubuh Sungmin lunglai dalam pelukannya, ada rasa sakit dan terkejut luar biasa di sana. Mata Sungmin yang membelalak mengatakan demikian. hingga beberapa detik kemudian, mata Sungmin kehilangan cahayanya, menutup dengan lemah, meninggalkan bercak gelap yang merintih tak bersuara disana.

Sang Pembunuh alih-alih melarikan diri terburu-buru, malahan dengan tenang mengangkat tubuh Sungmin yang pingsan dengan kedua tangannya, ke sudut ruangan, ke bagian ruang tengah rumah berlantai kayu yang dipernis mulus itu. Dia duduk di sana dan memangku tubuh Sungmin yang lunglai tanpa daya, dibelainya rambut pirang pendek Sungmin, diciuminya aroma leher korbannya. Sungguh diperlakukannya Sungmin bagai kekasih tertidur yang akan ditinggal pergi diam-diam. Sorot mata Sang Pembunuh adalah sorot mata kekasih, penuh cinta dan harapan yang meluap-luap.

Bukan sekali dua kali ini ia membereskan seseorang yang ‘lemah’ seperti Sungmin, ia sering menyebutnya 'order kecil’. Cepat, mudah dan tak jarang korbannya cantik luar biasa, seperti apa yang dilihatnya sekarang. Anehnya Sang Pembunuh selalu saja menetapkan harga yang amat sangat tinggi untuk order kecil seperti ini.

Tanpa alasan jelas, ia selalu bilang begitu kepada kliennya, karena tak mungkin mereka mengetahui bahwa Sang Pembunuh adalah pemuja pria, butuh pengorbanan besar dari nurani untuk membunuh seseorang, tetapi bahkan ia akan mengorbankan lebih besar lagi untuk membunuh Sungmin, satu-satunya pria yang telah menyentuh hatinya.

Bibir sang pembunuh menyentuh bibir Sungmin, melumatnya lembut penuh cinta. Sebelum akhirnya gelap dan pekatnya malam yang semakin dalam, menelan mereka berdua.


……….. TBC ………

Tuesday, July 2, 2013

AniHuman | Chap. 1

Suara pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan sesosok pemuda berwajah manis keluar. Handuk berwarna baby blue terpasang dipinggangnya, sosok itu melangkahkan kakinya menuju lemari dan mengambil seragamnya yang berwarna hitam.

“Hari ini hari pertama masuk sekolah di musim dingin di Jepang.” Gumamnya seraya memakaikan seragam itu pada dirinya.

“Fighting! Lee Sungmin dan semoga saja kau bertemu dengannya.” Mata foxy itu terlihat begitu bersemangat dan jangan lupakan senyuman manis yang terukir di bibir pink alaminya. Pemuda manis yang ceria, right?.

Setelah selesai dengan semua itu. Dia keluar dari kamarnya dan turun ke arah ruang makan, dimana ibu, ayah dan adiknya tengah sarapan.

“Ohayo! Otousan, Okasan, Sungjinnie.” Sapanya.

“Ohayo!” sapa ibunya dengan senyuman.

Mata foxynya melirik jam dipergelangannya, seketika itu juga dia tertegun. “Mati aku!”
Dengan segera dia berlari, lalu mencomot satu buah roti dan melanjutkan larinya lagi, tanpa memerdulikan adiknya yang protes karena ditinggal pergi duluan. Sedangkan kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah dua anaknya.

.

.

Lee Sungmin menghembuskan napasnya, saat ia sudah menjauh dari blok rumahnya. Aktingnya tadi cukup bagus, yah walaupun dia harus kelelahan dan menahan lapar. Dia melakukan itu karena untuk lepas dari ajakan berangkat bersama dengan adiknya. Bukan apa-apa, hanya saja dia jadi tidak bisa ‘leluasa’.

Lee Sungmin ialah seorang pemuda manis dari Korea yang hijrah ke Jepang tepatnya di Kyoto. Dan sekarang adalah tahun ke duanya di negara sakura ini, dia masih berumur 18 tahun dan bersekolah di ‘Shiraberu Senior High School’.

Sungmin tertegun ketika dia melihat sosok tinggi, tampan dan berkulit putih pucat tengah berdiri sambil memainkan harmonikanya di halte bus. Melodi yang keluar dari harmonika itu begitu menentramkan di hati Sungmin. Meski di tengah banyak orang, dia tampak begitu menonjol dan dia terlihat begitu ....

“Menajubkan..” bisik Sungmin dengan mata masih menatap penuh kagum dengan sosok itu. Hingga sebuah pukulan mendarat pada bahunya, ia tersentak.

“Jangan berhenti di tengah jalan dong. Menggangu.” Kalimat sarkatis itu terlontar keluar dari seorang laki-laki tua botak yang telah berlalu. Sungmin mendecih kemudian dia berjalan ke halte bus itu.

Saat dirinya sudah berada begitu dekat dengan sosok itu, bus yang akan mengantarkannya ke sekolah sudah tiba. Sosok menajubkan itu menghentikan permainan harmonikanya dan segera masuk ke dalam bus lewat pintu depan  diikuti oleh dirinya yang masuk lewat pintu belakang.

Begitu mendapat kursi kosong, pemuda manis itu langsung mendudukinya. Bus itu sudah terisi penuh, namun tidak terlalu banyak penumpang berdiri. Hanya ada satu penumpang sih yang berdiri, ya. Sosok itu. Berdiri, bersandar di tiang, harmonikanya tidak ada di tangannya namun terganti oleh sebuah game console berwarna hitam metalik.

Sungmin masih melihat sosok itu walaupun dengan curi-curi pandang. Tiba-tiba saja dia merasa lapar. Dirogohnya tas punggungnya dan mengeluarkan satu buah kaleng kecil berisi suplemen atau bisa disebut sebagai penahan lapar. Saat dia mau membuka kaleng kecil itu, bus yang ia tumpangi mendadak berhenti dan membuatnya terdorong ke depan dan kaleng kecil yang ia genggam terlepas dan menggelinding. Mata foxynya mengikuti arah gelindingnya botol kecil itu. Dan botol kecil itu berhenti di sisi sepatu hitam milik pemuda tinggi yang besandar di tiang itu. Sungmin menahan napasnya bagaimana ini?.

Namun, sosok itu terlalu cuek dengan keadaan sekitar. Lihat saja dia bahkan tidak sadar bahwa ada sebotol kecil tengah berada di bawahnya. Ckckck manusia tidak peka. Saat Sungmin mau mengambil botolnya, bus yang dia tumpangi melanjutkan perjalanannya dan otomatis botol itu kembali mengarah pada dirinya. Dia menghembuskan nafas lega dengan cepat dia segera meraih botol itu lalu membukanya.

.

.

.

“Hey. Siang-siang sudah ngelamun aja. Gag takut kesambet ama roh jahat.” Sebuah sapaan mendera pendengaran Lee Sungmin, membuat pemuda manis itu kembali pada kesadarannya. Dia menghela nafasnya begitu tahu siapa yang tengah mengusik acara melamunnya.

Matsumoto Ryeoko berdecak sebal ketika dia hanya ditanggapi sebuah lirikan oleh Lee Sungmin. Dia menghela nafasnya saat lagi-lagi temannya itu tidak menghiraukannya dan malah sibuk melihat dengan tatapan kagum pada sosok pemuda berkulit putih pucat yang sedang duduk dipojok kantin. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun, pemuda populer saat ini di sekolahnya.

“Dia terlihat begitu mengagumkan, indah dan penuh kharisma, bukan Lyeo-chan?” tanya Sungmin masih dengan menatap pemuda itu. Ryeoko memutar bola matanya imajinatif, apalagi saat mendengar embel-embel ‘chan’ dibelakang namanya. Sumpah dia bukan anak perempuan.

“Ne, Sungmin-chan.” Ucapnya dengan nada malas dan juga menyebutkan nama temannya itu dengan embel-embel ‘chan’.

“Kalian melihat Junchan, tidak?” sebuah suara menginterupsi Ryeoko yang mau memanggil seorang pelayan kantin.

“A – “ baru saja Ryeoko mau melontarkan ucapannya, keburu dipotong duluan oleh Sungmin. “Aku tidak melihatnya, sedaritadi aku hanya melihat Kyuhyun.”

Dan selanjutnya Ryeoko menepuk jidatnya, sedangkan orang yang menginterupsi mereka tadi hanya sweetdrop. Ryeoko menatap Micky –orang yang telah menginterupsinya tadi – “Jangan menatapnya seperti itu Micky-kun. Aku tadi melihatnya di koridor menuju perpustakaan, susul saja dia kesana.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Arigatou Ryeo-chan. Ku do’a kan suapaya kau bisa mendapat seme yang baik.” Ucap Micky seraya mencubit pipi chubby Ryeo lalu berlalu meninggalkan Ryeo yang masih mematung. ‘apa itu seme?’ batinnya.

Tiba-tiba sebuah cahaya merah menyala dari dalam saku celana Lee Sungmin, membuat Ryeoko tertegun. “Sungmin-kun. Itu mu menyala.” Katanya seraya menepuk pundak Sungmin.

“Hah? ‘Itu’ apa?” Sungmin menoleh ke arah Ryeoko yang tengah menunjuk saku celananya. Seketika dia membulatkan matanya, kemudian dia ambil ‘barang menyala’ itu.

“Telur?”.

“Ini bukan sembarang telur, kawan. Telur ini adalah jimat ku.” Ucap Sungmin sembari memainkan telur yang masih menyala merah itu. Tanpa dia sadari dua buah mata coklat tajam melihatnya.

.

.

.

Sungmin menghela napasnya, hari ini dia pulang terlambat. Pasalnya dia dipaksa menyelesaikan PR fisikanya yang belum dia rampungkan, untung dia sudah menelpon orang tuanya, kalau tidak sudah dipastikan sewaktu pulang dia dapat omelan.

Dan disinilah dia berdiri di teras depan kelasnya melihat salju pertama yang turun di bulan November sendirian. Temannya? Ryeoko dan Junchan ternyata tidak cukup solider untuk menunggunya.

Daripada berdiam diri disini seperti orang tidak ada kerjaan lebih baik dia bermain-main dengan salju. Toh, sudah lama dia tidak bermain dengan salju. Kaki jenjangnya melangkah menuju lapangan yang sudah ditumpuki salju di beberapa bagian. Dan selanjutnya dia bermain seperti anak kecil, tanpa dia sadari seseorang memotretnya diam-diam.

“Kawaii.”

.

.

.

Di malam yang lain, di atap sebuah gedung pencakar langit. Terdapat dua sosok makhluk dengan ekor dibelakangnya dan dua buah cuping telinga yang menyembul di rambut mereka.

“Kau yakin itu telur raja yang menghilang?” sebuah suara baritone menggema di tempat itu, membuka percakapan diantara mereka.

“Aku yakin. Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, Jeremy.” Terdengar suara bass dengan nada datar menimpali perkataan makhluk yang mirip kucing hitam yang tadi membuka percakapan itu.

“Kau harus menjaganya mulai malam ini serigala kecil. Dia sudah tidak aman lagi, banyak yang akan mengincarnya.”

“Tanpa perlu kau mengatakan seperti itu, aku sudah melakukannya sebelum aku memanggilmu kemari.”

Makhluk seperti kucing hitam itu tersenyum tipis. “Baiklah aku harus pergi, Inangku sudah pulang.” Pamitnya. “Wookie-yah aku merindukanmu~”. Bersamaan dengan ucapan itu sosok itu pergi.

Sosok yang dilabeli ‘serigala kecil’ itu mendengus. Namun, tiba-tiba dua cuping telinganya menegang dan liontin kalungnya menyala. Ini sebuah peringatan bahwa orang yang membawa telur milik raja sedang dalam bahaya.

“Sungmin.”

.

.

.

“Huft... Sungjin sialan! Awas kau. Saat aku sudah pulang. Aku akan mencabik-cabikmu.” Dumal Sungmin, mata foxynya menyiratkan kekesalan. Bagaimana tidak, dia yang sedang asik-asiknya mengerjakan tugas sekolah tiba-tiba saja disuruh Ibunya membeli satu kilogram telur. Sedangkan adiknya, Sungjin yang notebene disuruh oleh Ibunya pertama kali, mendadak mengajukan alasan bahwa kepalanya pusing ke Ibu Sungmin.

Sungmin mengeratkan jaket tebalnya, entah kenapa malam ini suhunya semakin dingin dan mencekam. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Dia berbelok ke sebuah gang panjang yang sepi. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman lewat gang ini, tapi mau gimana lagi. Ini jalan pintas satu-satunya menuju rumahnya, kalau lewat jalan raya akan memakan waktu cukup lama.

Tap! Tap!

Suara sol sepatu bertubrukan dengan tanah itu menggema di gang itu. Sungmin terdiam di tempat, ini bukan suara langkahnya. Lalu siapa? Sontak dia menoleh kebelakang, tidak ada siapapun. Mungkin hanya firasatnya saja, ya mungkin. Dia kembali melanjutkan langkahnya, namun beberapa langkah kemudian, dia mendengar suara langkah itu lagi. Seakan tidak mau peduli, dia tetap melangkah, tetapi dengan intensitas lebih cepat.

Langkah-langkah kaki itu terdengar semakin cepat di telinganya dan otaknya menyuruhnya untuk melangkah semakin cepat. Entah kenapa dia merasa akan ada sesuatu yang buruk padanya. Bahkan tanpa sadar tangannya menggenggam telur biru di sakunya. ‘Tuhan tolong aku’.

Tep!

Suara tepukan mendarat di bahunya dan sekali sentak tubuh Sungmin memutar kebelakang. Seketika itu juga mata foxynya membulat, melihat lima sosok yang tidak dikenal di depannya.

“M-ma-mau apa kalian?” ucapnya terbata sambil menatap satu-satu sosok-sosok yang lebih tinggi darinya dengan tatapan ketakutan. Apa mereka komplotan pemerkosa yang akhir-akhir ini mengganggu kenyamanan warga kota? Dia bergidik ngeri dengan pemikirannya.

Salah satu dari sosok-sosok itu menyeringai senang. “Hai, manis. Jangan takut begitu. Kami tidak akan menggigitmu. Ya, kecuali kalau kamu sedikit memberontak.”

Lampu yang sedikit remang-remang di tempat ini membuat Sungmin tidak mengenali rupa sosok-sosok itu. Jadi dia sedikit memicingkan matanya dan dia mendapati ada sesuatu yang aneh pada mereka. Dibelakang tubuh mereka terdapat sesuatu yang mirip ekor hewan.

“Siapa kalian? Apa mau kalian?”.

“Kami hanya ingin telur biru yang ada di sakumu.” ucap sosok itu to the point.
Detik juga, tangganya mencengkeram telur itu lebih erat. “Tidak. Tidak akan kubiarkan kalian mengambil telur ini.” Dia jadi teringat pesan pria tambun waktu itu, saat dia masih kecil. Pria itu berpesan kepadanya untuk menjaga telur biru itu dan jangan memberikannya pada siapapun.

“Berikan  telur itu dan kau akan selamat dari kami.”

“Aku tidak akan memberikan telur ini pada kalian.”

Satu dari mereka maju ke arah Sungmin, namun dengan cekatan Sungmin melemparkan satu telur yang berada di kantong plastik ke arah sosok itu. Dan jakcpot! Terkena. Sosok itu sedikit terhuyung kebelakang, tetapi kemudian kembali tegap dan berjalan menuju ke arahnya. Sekali lagi dia melempar telur yang ia beli ke sosok itu sambil melangkah mundur.
Lagi dan lagi dia melempar telur-telur yang di dalam kantong plastik itu terus menerus secara acak ke arah sosok itu. Dia tidak peduli, dia akan di omeli oleh ibunya saat pulang nanti. Yang terpenting sekarang dia harus menyelamatkan nyawanya dari sosok-sosok entah apa itu di depannya.

PLUK

Telur terakhir dari kantong plastik itu tidak terkena siapapun. Sosok-sosok yang ternyata berjumlah lima orang itu tersenyum menang.

“Cukup. Bermain-mainnya anak kecil. Sekarang waktunya kami untuk beraksi.”
Salah satu sosok yang mungkin ketua mereka, melangkah menuju ke arah Sungmin yang ketakutan. Dengan sekali sentak dia mengangkat kerah baju Sungmin dan membuat Sungmin semakin panik.

Dengan segala kekuatannya dia mengarahkan kakinya ke arah perut sosok itu. Terlepas sudah dia dari cengkeraman itu, namun belum sempat dia mengambil nafas, sosok lain menerjangnya dari belakang. Tapi dengan gesit dia menghindar, lalu tangannya mencekaram tangan sosok itu, dan tangannya yang satu lagi mencengkeram pinggiran celana sosok itu. kemudian dia membantingnya.

Beruntung dia dibekali ilmu beladiri, dan saat ini itu sangat berguna sekali. Sosok yang lain menerjangnya lagi dari depan, dia mencekaram tangan sosok itu dan memelintirnya lalu dia menjejakan kakinya di punggung itu yang otomatis membuat sosok itu menabrak temannya. Dan tiba-tiba dari arah samping kiri sosok lain menerjangnya lagi. Sungmin menginjak kaki sosok itu lalu mengarahkan tinjunya ke arah sosok itu. Tetapi dia tidak menyadari bahwa ada sosok dibelakangnya. Saat dia menoleh, sebuah benda keras menghantam kepalanya.

Serasa dihantam palu milik Thor si dewa petir, pandangannya mendadak berkunang-bekunang lalu buram. Sungmin terduduk lalu perlahan tubuh mungil itu terjatuh ke tanah, sebelum mata foxy itu tertutup. Sungmin mendengar suara sayatan pedang. Namun, setelah itu gelap.

.

.

.

Perlahan matanya terbuka, semuanya masih terlihat buram, tetapi perlahan-lahan terlihat begitu jelas. Dia mengerjapkan matanya, satu, dua kali. Kenapa langit-langit itu tampak asing dimatanya. Dia melirik ke arah kiri dan kanannya. Semua benda di sekitarnya terasa asing. Dengan sedikt tergesa di bangun dari tidurnya, tiba-tiba pusing mendera kepalanya lagi.

“Ouch” aduhnya dengan sesekali mengurut kepalanya.
Mata foxynya menatap keseliling ruangan yang dua kali lebih besar daripada kamarnya. Dia berada di mana? Seketika otaknya berputar, kembali mengingat kejadian sebelum ini. sedetik kemudian dia membelalakan matanya.

Apa dia berada di tempat sosok itu? Sosok itu berhasil membawanya? Dan sekarang dia di sekap oleh makhluk-makhluk entah apa itu? Tangannya seketika merogoh ke arah saku celananya, mencari telur biru itu. Namun nihil. Telur itu hilang. Apa mereka berhasil merebutnya? Tentu saja. Oh.. tamatlah riwayatmu Lee Sungmin.

Dia menghembuskan napasnya keras. Aisshhh.. betapa cerobohnya dia. Saat dia sibuk merutuki nasibnya, tiba-tiba suara pintu terbuka menyapa gendang telinganya. Sontak dia menatap ke arah pintu. Di pintu itu terdapat satu ekor kucing kecil lucu. Kucing itu berjalan ke arah ranjang di mana Sungmin tengah duduk di atas.

Hup!

Kucing kecil itu naik ke atas ranjang dan menatap Sungmin dengan ingin tahu. Sungmin takjub dengan kucing kecil itu dan sekaligus gemas. Rasanya Sungmin ingin sekali mencubit kucing itu. Dia jadi teringat sen dan hyaku di rumahnya, bagaimana sekarang keadaan mereka? Lalu bagaimana dengan keluarganya. Seketika itu juga dia jadi sedih.

“Kau sudah bangun rupanya.”

Sebuah suara bass yang cukup di kenali oleh telinganya, membuat Sungmin menoleh, di ambang pintu terlihat sosok pemuda tinggi, tampan, penuh kharisma dan yang pasti dia menyukai pemuda itu, tengah menatapnya. Dia sedang membawa nampan yang di atasnya ada sebuah mangkuk.

Sungmin mengerjap “C-cho Kyuhyun?”.

“Iya, kau kenal aku rupanya.” Ucap pemuda itu sambil menaruh nampan di atas bufet.
Kenapa pemuda itu ada di sini? Apa hubungan pemuda itu dengan kejadian kemarin? Bagaimana? Kenapa?. Semua pertanyaan melangsak masuk di otaknya, menuntut jawaban. Astaga membuat kepalanya serasa ingin meledak.

“Kenapa kau ada di sini? Aku ada di mana? Di mana telur itu sekarang?” tanya Sungmin dengan nada gag nyante.

“Tenang Lee Sungmin. Pelan-pelan. Kau baru saja siuman dari pingsanmu selama dua hari.” Jelas Kyuhyun sambil duduk di hadapan pemuda manis itu.

“Apa? Dua hari? Aku tidak sadarkan diri dua hari? Lalu bagaimana dengan keluarga ku? Sekolah ku? Kucing-kucing ku?”

Kyuhyun memutar kedua bola matanya secara imajinatif. “Seharusnya kau beruntung pingsan dua hari. Mengenai keluargamu, aku sudah menjelaskannya. Dan telur itu sudah terjaga dengan aman.”

Huh? Dahi Sungmin mengerut. Beruntung katanya? Tetapi mendengar telur itu terjaga aman, dia menghembuskan nafas lega. Tapi tetap saja dia harus was-was.

“Iya, kau beruntung. Kau tahu. Biasanya manusia yang terkena itu akan tidak sadarkan diri selama satu minggu. Oh ya, kemarin dia yang menolongmu.” Ucap sebuah suara yang terdengar sangat girly di sampingnya. Matanya menatap horor ke kucing kecil menggemaskan itu. Dia shock. Kucing itu bisa berbicara.



To Be Continued...