Suara pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan sesosok pemuda berwajah manis keluar. Handuk berwarna baby blue terpasang dipinggangnya, sosok itu melangkahkan kakinya menuju lemari dan mengambil seragamnya yang berwarna hitam.
“Hari ini hari pertama masuk sekolah di musim dingin di Jepang.” Gumamnya seraya memakaikan seragam itu pada dirinya.
“Fighting! Lee Sungmin dan semoga saja kau bertemu dengannya.” Mata foxy itu terlihat begitu bersemangat dan jangan lupakan senyuman manis yang terukir di bibir pink alaminya. Pemuda manis yang ceria, right?.
Setelah selesai dengan semua itu. Dia keluar dari kamarnya dan turun ke arah ruang makan, dimana ibu, ayah dan adiknya tengah sarapan.
“Ohayo! Otousan, Okasan, Sungjinnie.” Sapanya.
“Ohayo!” sapa ibunya dengan senyuman.
Mata foxynya melirik jam dipergelangannya, seketika itu juga dia tertegun. “Mati aku!”
Dengan segera dia berlari, lalu mencomot satu buah roti dan melanjutkan larinya lagi, tanpa memerdulikan adiknya yang protes karena ditinggal pergi duluan. Sedangkan kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah dua anaknya.
.
.
Lee Sungmin menghembuskan napasnya, saat ia sudah menjauh dari blok rumahnya. Aktingnya tadi cukup bagus, yah walaupun dia harus kelelahan dan menahan lapar. Dia melakukan itu karena untuk lepas dari ajakan berangkat bersama dengan adiknya. Bukan apa-apa, hanya saja dia jadi tidak bisa ‘leluasa’.
Lee Sungmin ialah seorang pemuda manis dari Korea yang hijrah ke Jepang tepatnya di Kyoto. Dan sekarang adalah tahun ke duanya di negara sakura ini, dia masih berumur 18 tahun dan bersekolah di ‘Shiraberu Senior High School’.
Sungmin tertegun ketika dia melihat sosok tinggi, tampan dan berkulit putih pucat tengah berdiri sambil memainkan harmonikanya di halte bus. Melodi yang keluar dari harmonika itu begitu menentramkan di hati Sungmin. Meski di tengah banyak orang, dia tampak begitu menonjol dan dia terlihat begitu ....
“Menajubkan..” bisik Sungmin dengan mata masih menatap penuh kagum dengan sosok itu. Hingga sebuah pukulan mendarat pada bahunya, ia tersentak.
“Jangan berhenti di tengah jalan dong. Menggangu.” Kalimat sarkatis itu terlontar keluar dari seorang laki-laki tua botak yang telah berlalu. Sungmin mendecih kemudian dia berjalan ke halte bus itu.
Saat dirinya sudah berada begitu dekat dengan sosok itu, bus yang akan mengantarkannya ke sekolah sudah tiba. Sosok menajubkan itu menghentikan permainan harmonikanya dan segera masuk ke dalam bus lewat pintu depan diikuti oleh dirinya yang masuk lewat pintu belakang.
Begitu mendapat kursi kosong, pemuda manis itu langsung mendudukinya. Bus itu sudah terisi penuh, namun tidak terlalu banyak penumpang berdiri. Hanya ada satu penumpang sih yang berdiri, ya. Sosok itu. Berdiri, bersandar di tiang, harmonikanya tidak ada di tangannya namun terganti oleh sebuah game console berwarna hitam metalik.
Sungmin masih melihat sosok itu walaupun dengan curi-curi pandang. Tiba-tiba saja dia merasa lapar. Dirogohnya tas punggungnya dan mengeluarkan satu buah kaleng kecil berisi suplemen atau bisa disebut sebagai penahan lapar. Saat dia mau membuka kaleng kecil itu, bus yang ia tumpangi mendadak berhenti dan membuatnya terdorong ke depan dan kaleng kecil yang ia genggam terlepas dan menggelinding. Mata foxynya mengikuti arah gelindingnya botol kecil itu. Dan botol kecil itu berhenti di sisi sepatu hitam milik pemuda tinggi yang besandar di tiang itu. Sungmin menahan napasnya bagaimana ini?.
Namun, sosok itu terlalu cuek dengan keadaan sekitar. Lihat saja dia bahkan tidak sadar bahwa ada sebotol kecil tengah berada di bawahnya. Ckckck manusia tidak peka. Saat Sungmin mau mengambil botolnya, bus yang dia tumpangi melanjutkan perjalanannya dan otomatis botol itu kembali mengarah pada dirinya. Dia menghembuskan nafas lega dengan cepat dia segera meraih botol itu lalu membukanya.
.
.
.
“Hey. Siang-siang sudah ngelamun aja. Gag takut kesambet ama roh jahat.” Sebuah sapaan mendera pendengaran Lee Sungmin, membuat pemuda manis itu kembali pada kesadarannya. Dia menghela nafasnya begitu tahu siapa yang tengah mengusik acara melamunnya.
Matsumoto Ryeoko berdecak sebal ketika dia hanya ditanggapi sebuah lirikan oleh Lee Sungmin. Dia menghela nafasnya saat lagi-lagi temannya itu tidak menghiraukannya dan malah sibuk melihat dengan tatapan kagum pada sosok pemuda berkulit putih pucat yang sedang duduk dipojok kantin. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun, pemuda populer saat ini di sekolahnya.
“Dia terlihat begitu mengagumkan, indah dan penuh kharisma, bukan Lyeo-chan?” tanya Sungmin masih dengan menatap pemuda itu. Ryeoko memutar bola matanya imajinatif, apalagi saat mendengar embel-embel ‘chan’ dibelakang namanya. Sumpah dia bukan anak perempuan.
“Ne, Sungmin-chan.” Ucapnya dengan nada malas dan juga menyebutkan nama temannya itu dengan embel-embel ‘chan’.
“Kalian melihat Junchan, tidak?” sebuah suara menginterupsi Ryeoko yang mau memanggil seorang pelayan kantin.
“A – “ baru saja Ryeoko mau melontarkan ucapannya, keburu dipotong duluan oleh Sungmin. “Aku tidak melihatnya, sedaritadi aku hanya melihat Kyuhyun.”
Dan selanjutnya Ryeoko menepuk jidatnya, sedangkan orang yang menginterupsi mereka tadi hanya sweetdrop. Ryeoko menatap Micky –orang yang telah menginterupsinya tadi – “Jangan menatapnya seperti itu Micky-kun. Aku tadi melihatnya di koridor menuju perpustakaan, susul saja dia kesana.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Arigatou Ryeo-chan. Ku do’a kan suapaya kau bisa mendapat seme yang baik.” Ucap Micky seraya mencubit pipi chubby Ryeo lalu berlalu meninggalkan Ryeo yang masih mematung. ‘apa itu seme?’ batinnya.
Tiba-tiba sebuah cahaya merah menyala dari dalam saku celana Lee Sungmin, membuat Ryeoko tertegun. “Sungmin-kun. Itu mu menyala.” Katanya seraya menepuk pundak Sungmin.
“Hah? ‘Itu’ apa?” Sungmin menoleh ke arah Ryeoko yang tengah menunjuk saku celananya. Seketika dia membulatkan matanya, kemudian dia ambil ‘barang menyala’ itu.
“Telur?”.
“Ini bukan sembarang telur, kawan. Telur ini adalah jimat ku.” Ucap Sungmin sembari memainkan telur yang masih menyala merah itu. Tanpa dia sadari dua buah mata coklat tajam melihatnya.
.
.
.
Sungmin menghela napasnya, hari ini dia pulang terlambat. Pasalnya dia dipaksa menyelesaikan PR fisikanya yang belum dia rampungkan, untung dia sudah menelpon orang tuanya, kalau tidak sudah dipastikan sewaktu pulang dia dapat omelan.
Dan disinilah dia berdiri di teras depan kelasnya melihat salju pertama yang turun di bulan November sendirian. Temannya? Ryeoko dan Junchan ternyata tidak cukup solider untuk menunggunya.
Daripada berdiam diri disini seperti orang tidak ada kerjaan lebih baik dia bermain-main dengan salju. Toh, sudah lama dia tidak bermain dengan salju. Kaki jenjangnya melangkah menuju lapangan yang sudah ditumpuki salju di beberapa bagian. Dan selanjutnya dia bermain seperti anak kecil, tanpa dia sadari seseorang memotretnya diam-diam.
“Kawaii.”
.
.
.
Di malam yang lain, di atap sebuah gedung pencakar langit. Terdapat dua sosok makhluk dengan ekor dibelakangnya dan dua buah cuping telinga yang menyembul di rambut mereka.
“Kau yakin itu telur raja yang menghilang?” sebuah suara baritone menggema di tempat itu, membuka percakapan diantara mereka.
“Aku yakin. Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, Jeremy.” Terdengar suara bass dengan nada datar menimpali perkataan makhluk yang mirip kucing hitam yang tadi membuka percakapan itu.
“Kau harus menjaganya mulai malam ini serigala kecil. Dia sudah tidak aman lagi, banyak yang akan mengincarnya.”
“Tanpa perlu kau mengatakan seperti itu, aku sudah melakukannya sebelum aku memanggilmu kemari.”
Makhluk seperti kucing hitam itu tersenyum tipis. “Baiklah aku harus pergi, Inangku sudah pulang.” Pamitnya. “Wookie-yah aku merindukanmu~”. Bersamaan dengan ucapan itu sosok itu pergi.
Sosok yang dilabeli ‘serigala kecil’ itu mendengus. Namun, tiba-tiba dua cuping telinganya menegang dan liontin kalungnya menyala. Ini sebuah peringatan bahwa orang yang membawa telur milik raja sedang dalam bahaya.
“Sungmin.”
.
.
.
“Huft... Sungjin sialan! Awas kau. Saat aku sudah pulang. Aku akan mencabik-cabikmu.” Dumal Sungmin, mata foxynya menyiratkan kekesalan. Bagaimana tidak, dia yang sedang asik-asiknya mengerjakan tugas sekolah tiba-tiba saja disuruh Ibunya membeli satu kilogram telur. Sedangkan adiknya, Sungjin yang notebene disuruh oleh Ibunya pertama kali, mendadak mengajukan alasan bahwa kepalanya pusing ke Ibu Sungmin.
Sungmin mengeratkan jaket tebalnya, entah kenapa malam ini suhunya semakin dingin dan mencekam. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Dia berbelok ke sebuah gang panjang yang sepi. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman lewat gang ini, tapi mau gimana lagi. Ini jalan pintas satu-satunya menuju rumahnya, kalau lewat jalan raya akan memakan waktu cukup lama.
Tap! Tap!
Suara sol sepatu bertubrukan dengan tanah itu menggema di gang itu. Sungmin terdiam di tempat, ini bukan suara langkahnya. Lalu siapa? Sontak dia menoleh kebelakang, tidak ada siapapun. Mungkin hanya firasatnya saja, ya mungkin. Dia kembali melanjutkan langkahnya, namun beberapa langkah kemudian, dia mendengar suara langkah itu lagi. Seakan tidak mau peduli, dia tetap melangkah, tetapi dengan intensitas lebih cepat.
Langkah-langkah kaki itu terdengar semakin cepat di telinganya dan otaknya menyuruhnya untuk melangkah semakin cepat. Entah kenapa dia merasa akan ada sesuatu yang buruk padanya. Bahkan tanpa sadar tangannya menggenggam telur biru di sakunya. ‘Tuhan tolong aku’.
Tep!
Suara tepukan mendarat di bahunya dan sekali sentak tubuh Sungmin memutar kebelakang. Seketika itu juga mata foxynya membulat, melihat lima sosok yang tidak dikenal di depannya.
“M-ma-mau apa kalian?” ucapnya terbata sambil menatap satu-satu sosok-sosok yang lebih tinggi darinya dengan tatapan ketakutan. Apa mereka komplotan pemerkosa yang akhir-akhir ini mengganggu kenyamanan warga kota? Dia bergidik ngeri dengan pemikirannya.
Salah satu dari sosok-sosok itu menyeringai senang. “Hai, manis. Jangan takut begitu. Kami tidak akan menggigitmu. Ya, kecuali kalau kamu sedikit memberontak.”
Lampu yang sedikit remang-remang di tempat ini membuat Sungmin tidak mengenali rupa sosok-sosok itu. Jadi dia sedikit memicingkan matanya dan dia mendapati ada sesuatu yang aneh pada mereka. Dibelakang tubuh mereka terdapat sesuatu yang mirip ekor hewan.
“Siapa kalian? Apa mau kalian?”.
“Kami hanya ingin telur biru yang ada di sakumu.” ucap sosok itu to the point.
Detik juga, tangganya mencengkeram telur itu lebih erat. “Tidak. Tidak akan kubiarkan kalian mengambil telur ini.” Dia jadi teringat pesan pria tambun waktu itu, saat dia masih kecil. Pria itu berpesan kepadanya untuk menjaga telur biru itu dan jangan memberikannya pada siapapun.
“Berikan telur itu dan kau akan selamat dari kami.”
“Aku tidak akan memberikan telur ini pada kalian.”
Satu dari mereka maju ke arah Sungmin, namun dengan cekatan Sungmin melemparkan satu telur yang berada di kantong plastik ke arah sosok itu. Dan jakcpot! Terkena. Sosok itu sedikit terhuyung kebelakang, tetapi kemudian kembali tegap dan berjalan menuju ke arahnya. Sekali lagi dia melempar telur yang ia beli ke sosok itu sambil melangkah mundur.
Lagi dan lagi dia melempar telur-telur yang di dalam kantong plastik itu terus menerus secara acak ke arah sosok itu. Dia tidak peduli, dia akan di omeli oleh ibunya saat pulang nanti. Yang terpenting sekarang dia harus menyelamatkan nyawanya dari sosok-sosok entah apa itu di depannya.
PLUK
Telur terakhir dari kantong plastik itu tidak terkena siapapun. Sosok-sosok yang ternyata berjumlah lima orang itu tersenyum menang.
“Cukup. Bermain-mainnya anak kecil. Sekarang waktunya kami untuk beraksi.”
Salah satu sosok yang mungkin ketua mereka, melangkah menuju ke arah Sungmin yang ketakutan. Dengan sekali sentak dia mengangkat kerah baju Sungmin dan membuat Sungmin semakin panik.
Dengan segala kekuatannya dia mengarahkan kakinya ke arah perut sosok itu. Terlepas sudah dia dari cengkeraman itu, namun belum sempat dia mengambil nafas, sosok lain menerjangnya dari belakang. Tapi dengan gesit dia menghindar, lalu tangannya mencekaram tangan sosok itu, dan tangannya yang satu lagi mencengkeram pinggiran celana sosok itu. kemudian dia membantingnya.
Beruntung dia dibekali ilmu beladiri, dan saat ini itu sangat berguna sekali. Sosok yang lain menerjangnya lagi dari depan, dia mencekaram tangan sosok itu dan memelintirnya lalu dia menjejakan kakinya di punggung itu yang otomatis membuat sosok itu menabrak temannya. Dan tiba-tiba dari arah samping kiri sosok lain menerjangnya lagi. Sungmin menginjak kaki sosok itu lalu mengarahkan tinjunya ke arah sosok itu. Tetapi dia tidak menyadari bahwa ada sosok dibelakangnya. Saat dia menoleh, sebuah benda keras menghantam kepalanya.
Serasa dihantam palu milik Thor si dewa petir, pandangannya mendadak berkunang-bekunang lalu buram. Sungmin terduduk lalu perlahan tubuh mungil itu terjatuh ke tanah, sebelum mata foxy itu tertutup. Sungmin mendengar suara sayatan pedang. Namun, setelah itu gelap.
.
.
.
Perlahan matanya terbuka, semuanya masih terlihat buram, tetapi perlahan-lahan terlihat begitu jelas. Dia mengerjapkan matanya, satu, dua kali. Kenapa langit-langit itu tampak asing dimatanya. Dia melirik ke arah kiri dan kanannya. Semua benda di sekitarnya terasa asing. Dengan sedikt tergesa di bangun dari tidurnya, tiba-tiba pusing mendera kepalanya lagi.
“Ouch” aduhnya dengan sesekali mengurut kepalanya.
Mata foxynya menatap keseliling ruangan yang dua kali lebih besar daripada kamarnya. Dia berada di mana? Seketika otaknya berputar, kembali mengingat kejadian sebelum ini. sedetik kemudian dia membelalakan matanya.
Apa dia berada di tempat sosok itu? Sosok itu berhasil membawanya? Dan sekarang dia di sekap oleh makhluk-makhluk entah apa itu? Tangannya seketika merogoh ke arah saku celananya, mencari telur biru itu. Namun nihil. Telur itu hilang. Apa mereka berhasil merebutnya? Tentu saja. Oh.. tamatlah riwayatmu Lee Sungmin.
Dia menghembuskan napasnya keras. Aisshhh.. betapa cerobohnya dia. Saat dia sibuk merutuki nasibnya, tiba-tiba suara pintu terbuka menyapa gendang telinganya. Sontak dia menatap ke arah pintu. Di pintu itu terdapat satu ekor kucing kecil lucu. Kucing itu berjalan ke arah ranjang di mana Sungmin tengah duduk di atas.
Hup!
Kucing kecil itu naik ke atas ranjang dan menatap Sungmin dengan ingin tahu. Sungmin takjub dengan kucing kecil itu dan sekaligus gemas. Rasanya Sungmin ingin sekali mencubit kucing itu. Dia jadi teringat sen dan hyaku di rumahnya, bagaimana sekarang keadaan mereka? Lalu bagaimana dengan keluarganya. Seketika itu juga dia jadi sedih.
“Kau sudah bangun rupanya.”
Sebuah suara bass yang cukup di kenali oleh telinganya, membuat Sungmin menoleh, di ambang pintu terlihat sosok pemuda tinggi, tampan, penuh kharisma dan yang pasti dia menyukai pemuda itu, tengah menatapnya. Dia sedang membawa nampan yang di atasnya ada sebuah mangkuk.
Sungmin mengerjap “C-cho Kyuhyun?”.
“Iya, kau kenal aku rupanya.” Ucap pemuda itu sambil menaruh nampan di atas bufet.
Kenapa pemuda itu ada di sini? Apa hubungan pemuda itu dengan kejadian kemarin? Bagaimana? Kenapa?. Semua pertanyaan melangsak masuk di otaknya, menuntut jawaban. Astaga membuat kepalanya serasa ingin meledak.
“Kenapa kau ada di sini? Aku ada di mana? Di mana telur itu sekarang?” tanya Sungmin dengan nada gag nyante.
“Tenang Lee Sungmin. Pelan-pelan. Kau baru saja siuman dari pingsanmu selama dua hari.” Jelas Kyuhyun sambil duduk di hadapan pemuda manis itu.
“Apa? Dua hari? Aku tidak sadarkan diri dua hari? Lalu bagaimana dengan keluarga ku? Sekolah ku? Kucing-kucing ku?”
Kyuhyun memutar kedua bola matanya secara imajinatif. “Seharusnya kau beruntung pingsan dua hari. Mengenai keluargamu, aku sudah menjelaskannya. Dan telur itu sudah terjaga dengan aman.”
Huh? Dahi Sungmin mengerut. Beruntung katanya? Tetapi mendengar telur itu terjaga aman, dia menghembuskan nafas lega. Tapi tetap saja dia harus was-was.
“Iya, kau beruntung. Kau tahu. Biasanya manusia yang terkena itu akan tidak sadarkan diri selama satu minggu. Oh ya, kemarin dia yang menolongmu.” Ucap sebuah suara yang terdengar sangat girly di sampingnya. Matanya menatap horor ke kucing kecil menggemaskan itu. Dia shock. Kucing itu bisa berbicara.
To Be Continued...
No comments:
Post a Comment