Yui Chan Say

Tuesday, July 2, 2013

Frist | Chap.1

Siang itu matahari tidak terlalu terik seperti biasanya jika dalam musim semi seperti ini di kota Seoul. Hal ini di manfaatkan oleh orang-orang untuk keluar dari kantor seperti membeli makanan di cafe-cafe atau restoran terdekat kantor mereka, tanpa perlu menyuruh para office boy atau office girl di kantor mereka untuk membeli makanan di luar.

Jalanan Apgujeong saat ini penuh dengan orang-orang kantoran. Bahkan cafe-cafe dan restoran di sana sudah penuh, membuat beberapa orang yang ingin makan harus beralih ke tempat lain. Dan hal itu juga membuat seorang laki-laki berwajah sangat manis, tengah menggerutu sebal di depan sebuah cafe yang penuh dengan orang. Mata foxynya melirik handphone yang ia genggam saat handphone itu bergetar dan menampilkan gambar pesan. Dibukanya pesan itu dan beberapa detik kemudian dia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu.

Dia berjalan dengan cepat, baju formalnya tampak sedikit kusut akibat ulahnya. Hingga sampai di depan sebuah restoran ujung jalan dia berhenti, kemudian dia masuk ke dalam restoran itu di saat yang bersamaan bunyi lonceng menggema di seluruh sudut restoran yang tidak terlalu ramai itu.

Sebuah siulan dari arah kiri menginterupsinya, reflek dia menolehkan kepalanya. Tidak lama kemudian senyum tiga jari bertengger di bibirnya. Segera dia langkahkan kakinya ke arah meja tersebut. Dia daratkan pantatnya di sebuah kursi depan temannya sekaligus rekan kerjanya. Kemudian mata foxynya menatap laki-laki berwajah kekanakan di hadapannya.

“Mau ku pesankan sesuatu?” ucap laki-laki berwajah kekanakan dihadapannya itu yang langsung diangguki oleh pria manis itu.

Pria kekanakan itu menjetikkan jarinya saat seorang pelayan tanpa sengaja melihatnya. Dengan segera pelayan itu berjalan menghampirinya sembari mengeluarkan buku kecil dan bulpoin. Siapa tahu pelanggan restoran itu memesan makanan kembali.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” kata pelayan itu sopan.

“Aku memesan satu porsi Pasta dan satu gelas Strawberry lime.” kata laki-laki itu yang ditanggapi dengan anggukan sang pelayan. Pelayan itu mengucapkan sekali lagi kemudian berlalu setelah mengatakan kepada dua laki-laki tampan dan manis itu untuk menunggu sebentar.

“Oh ya Min, kamu mau tidak berkerja sama dengan sebuah perusahaan besar?” kata laki-laki betampang kekanakan itu kepada temannya.

Mendengar kata kerja sama pria manis itu langsung antusias. Namun sebuah rasa pesimis masuk dalam benaknya, membuatnya takut jika hal ini tidak berjalan lancar lagi seperti kejadian beberapa bulan lalu, untung saja perusahaan itu mau untuk membayar rugi. “Tapi bagaimana dengan perusahaan itu sendiri, apa mereka mau?”

“Soal itu biar aku yang mengaturnya dan sekarang aku minta jawabanmu untuk tawaran ini. Toh jika kau bekerja sama dengan sebuah perusahaan besar dan berhasil otomatis omset perusahaanmu bertambah dan membaik seperti dahulu.” kata pria itu dengan mimik muka santai.

“Tentu saja aku mau.” ucapnya cukup yakin membuat lengkungan bibir ke atas tercipta di bibir tipis pria di hadapannya.

“Hari sabtu kamu tidak ada acara, kan?” tanya laki-laki berwajah kekanakan itu.

“Tidak ada.” jawabnya.

“Kalau begitu hari sabtu di restoran ini jam 10.00 pertemuan itu akan dilakukan, jangan lupa.” katanya tanpa persetujuan dari teman sekaligus atasannya itu.

“Oke.” katanya.

Namun mendadak pria manis itu tersentak ketika dia teringat sesuatu pada hari Sabtu mendatang. Dia membuka bibirnya bermaksud menolak pertemuan itu, tetapi belum sempat dia mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya kembali tertutup ketika aroma makanan sedap menyapa hidungnya membuat perutnya meraung-raung minta diisi.

.

.

.

Matahari menerobos masuk lewat jendela besar di sebuah kamar yang gordennya sudah tersibak penuh. Membuat seorang pria yang sedang bergumul selimut itu mengerang tidak nyaman. Dia bangun dari tidurnya dan duduk bersila di tempat tidurnya. Masih dengan mata tertutup dia merenggakan otot pinggangnya ke kanan dan ke kiri hingga terdengar bunyi gemeretak tulang sendi. Pasti tidurnya kemarin sangat nyenyak hingga membuat otot pinggangnya terasa kaku.

Setelah itu dia mengerjapkan kedua matanya lalu bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Pintu kamar mandi itu tertutup kemudian terdengar suara air yang mengucur deras dari shower.

Dua puluh menit kemudian pria itu keluar dengan bathrobe yang membaluti tubuhnya serta handuk yang melingkar di lehernya. Dia mengeringkan rambutnya sambil melangkah menuju sebuah meja yang di atasnya sudah tersaji satu cup cappucino serta sepiring sandwich. Dia ambil gelas itu sebelum menyabar sandwich dan berjalan menuju balkon kamarnya. Menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di sabtu pagi.
Rumahnya yang terletak di pinggir kota Seoul itu menguntungkan untuknya, selain lahan yang luas terdepat pula pemandangan yang menyejukan mata. Membuat orang-orang penghuni rumah ini betah untuk tinggal lebih lama.

Cho Kyuhyun, namja tampan itu menyeruput cappucinnonya perlahan, merasakan rasa pahit bercampur manis yang mengecap di lidahnya. Kemudian mulutnya langsung melahap sandwich di tangan kirinya. Setelah selesai dia meletakkan kembali gelas itu kemudian berjalan menuju meja nakasnya mengambil handphone touchsreen warna hitamnya. Sedetik kemudian jemarinya telah menari diatas handphone touchscreen itu. Matanya terpaku pada satu agenda hari ini:

10:00 Donghae Hyung.

Tanpa perlu melihat isi agenda itu ia segera menuju lemari besarnya menyambar kemeja putih serta jas dan celana kemudian berjalan ke sebuah sekat. Setelah berganti pakaian dia mengambil jam tangan warna hitamnya yang terlihat elegan dan terkesan mahal.

Mata tajamnya melirik sekilas jam tangan itu yang menunjukan jam 09:00. Jalan menuju ke tempat pertemuan itu dari rumahnya memakan waktu satu jam perjalanan jika jalanan protokol tidak penuh dengan kendaraan. Hari ini hari Sabtu. Weekend. Jadi bisa dipastikan jalanan tidak akan dipenuhi oleh kendaraan pribadi.

Saat kakinya menginjak anak tangga terakhir sebuah suara serak menginterupsinya. “Ini tuan kunci mobilnya.” dia menoleh dan mendapati seorang pria tua namun berbadan tegap sedang membungkuk ke arahnya sambil menyerahkan sebuah kunci mobil, pria tua itu kepala pelayan di rumahnya yang telah mengabdikan dirinya sejak orangtuanya masih berada disini. Dia tersenyum tipis dan mengambil kunci tersebut. “Terima kasih Hwang Ajhussi.”

Kepala pelayan itu menegakan badannya dan tersenyum ramah sambil melihat punggung tegap dan bidang milik sang anak majikannya yang menghilang di balik pintu berpelitur tersebut.

.

.

.

.

.

Cahaya matahari terlalu terang membuat Sungmin menyipitkan matanya untuk melihat apa yang ada di hadapannya ini. Pasalnya dia merasakan hawa sejuk, tentram, damai dan semilir angin yang tertiup sepoi-sepoi. Saat pandangannya mulai membaik tiba-tiba dia mersakan sebuah tangan kekar memeluk lehernya dan pinggangnya.

“Menurutmu tempat ini bagaimana Ming?” suara bass milik si tangan kekar yang memeluk lehernya dan pinggangnya itu berucap lirih di telinganya menimbulkan nafas yang membuat Sungmin jadi geli. Dia pertajamkan matanya, kemudian terlihatlah sebuah hamparan rumput hijau serta bunga-bunga yang cukup indah dan jangan lupakan ornamen-ornamen yang menambah kesan indah untuk tempat ini.

“Menajubkan.” ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun. Entahlah, dia merasa sangat nyaman dalam pelukan namja itu yang begitu posesif. Kemudian dia merasakan sebuah benda lembut mengecup pipi chubbynya reflek dia memejamkan matanya. Merasakan kecupan-kecupan yang menghujam pipinya itu terus-menerus.

Semakin lama ciuman itu mengarah pada leher belakangnya, titik tersensitifnya. Dia menggigit bibirnya, menahan desahan yang akan mungkin keluar. Namun kecupan itu berhenti, Sungmin berbalik dan memandang pria yang ternyata jauh lebih tinggi darinya itu. Cahaya matahari itu membuatnya silau, jadi dia tidak dapat melihat dengan jelas pria itu. Tetapi mata foxynya dapat menangkap senyum manis yang terwujud dari bibir tebal pria itu.

Dia menjijitkan kakinya, bermaksud mencium bibir tebal itu. Tetapi sebuah suara memekikan telinga mengganggunya.

“Aissh, suara apa itu.” katanya dengan nada kesal. Dia mengerucutkan bibirnya dan mencari asal suara itu, kemudian mematikannya. Tak tahukah bahwa itu mengganggu moment romantisnya.

KRRRIIIIINNNNGGGG

Bunyi itu semakin nyaring menimbulkan bunyi 'nggiiing' di telinganya. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Hey kemana perginya tempat itu dan pria yang tersenyum manis tadi juga kemana? Kenapa gelap. Tapi kenapa bunyi itu tidak hilang?. Ah, iya seakan baru ingat bahwa bunyi itu bersal dari jam bekernya.

Dia bangun tiba-tiba lalu tangannya menuju meja nakas menggapai jam beker. Setelah berhasil mendapatkannya tanganya reflek melempar jam beker itu ke dinding, tanpa peduli dengan nasib jam bekernya, dia kembali meringkuk dalam selimut. Masuk ke dalam mimpinya yang sempat hilang tadi.

Namun belum ada satu jam tiba-tiba nada dering ponselnya berbunyi nyaring, membuat bibir plum itu menyuarakan umpatan. Apa tidak ada yang mengerti, dia ingin istirahat hari ini dan ingin hanya tidur sampai nanti sore. Tangannya meraba meja nakas kembali, kemudian menyambar handphonenya. Tanpa melihat siapa yang menelpon jemarinya langsung menekan tombol hijau.

“Yobosseyo.” katanya dengan mata tertutup.

“Min apa kau lupa hari ini kita ada janjian!” semprot si penelpon yang langsung menerpa gendang telinganya.

“Janji??” kata Sungmin sembari membuka kedua matanya dan mengerutkan kening. Memaksa otaknya kembali mengingat apa dia mempunyai janji. Seketika kemudian mata foxynya membulat penuh, dia bangun dari tidurnya lalu melihat jam dinding kamarnya.

Tanpa memutuskan telepon itu dan membiarkan suara diseberang sana memanggilnya berkali-kali. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan dengan handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya. Dan melangkah menuju lemarinya, menyambar baju pink serta celana dan jaket rompi warna putih.

Dia keluar dari apartementnya dengan tergesa-tergesa untung dia memakai sepatu snekers tanpa tali jadi tidak perlu repot-repot untuk membuat simpul tali. Aissh, bagaimana dia bisa lupa. Pasti sahabatnya itu akan mengoceh tidak jelas padanya.

Dia masuk ke dalam mobil warna pinknya yang ia parkir di area basement gedung apartemen tersebut. Lalu dalam jangka waktu lima belas menit dia sudah sampai ditempat tujuan. Beruntung apartemennya terletak di lokasi strategis, hingga tidak akan memakan banyak waktu.

KLING

Bunyi lonceng menyapa gendang telinganya ketika dia membuka pintu restorant itu. Dia memandang seluruh isi restoran dan tersenyum saat matanya melihat temannya tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Dia langkahkan kakinya menuju ke arah temannya, namun alisnya menyatu ketika dia melihat punggung tegap nan bidang yang memunggunginya. 'Apa dia yang akan bekerja sama dengan perusahaan ku?'.

“Min perkenalkan dia yang akan bekerja sama dengan perusahaanmu.” sebuah suara membangunkannya dari lamunan tidak penting. Dia menatap temannya yang juga tengah memandangnya dengan bingung, sebut saja Lee Donghae.

Kemudian dia mengalihkan pandangannya, menatap sesosok pria yang memakai setelan jas dihadapannya. Satu kata untuk pria di hadapannya ini, tampan. Eh? Apa yang ia pikirkan.dia menggelengkan kepalanya.

Dia menatap kembali pria bersurai coklat dan lebih tinggi darinya itu. Seulas senyum membentuk di bibir plumnya, “Lee Sungmin.” ucapnya ramah sembari mengulurkan tangannya. Pria itu menyambutnya dan juga menyunggikan senyumnya yang entah kenapa senyum itu membuat Sungmin teringat pria di mimpinya.

“Cho Kyuhyun.”

To Be Continued.....



No comments:

Post a Comment