Siang itu matahari tidak
terlalu terik seperti biasanya jika dalam musim semi seperti ini di kota Seoul.
Hal ini di manfaatkan oleh orang-orang untuk keluar dari kantor seperti membeli
makanan di cafe-cafe atau restoran terdekat kantor mereka, tanpa perlu menyuruh
para office boy atau office girl di kantor mereka untuk membeli makanan di
luar.
Jalanan Apgujeong saat ini
penuh dengan orang-orang kantoran. Bahkan cafe-cafe dan restoran di sana sudah
penuh, membuat beberapa orang yang ingin makan harus beralih ke tempat lain.
Dan hal itu juga membuat seorang laki-laki berwajah sangat manis, tengah
menggerutu sebal di depan sebuah cafe yang penuh dengan orang. Mata foxynya
melirik handphone yang ia genggam saat handphone itu bergetar dan menampilkan
gambar pesan. Dibukanya pesan itu dan beberapa detik kemudian dia melangkahkan
kakinya menjauh dari tempat itu.
Dia berjalan dengan cepat,
baju formalnya tampak sedikit kusut akibat ulahnya. Hingga sampai di depan
sebuah restoran ujung jalan dia berhenti, kemudian dia masuk ke dalam restoran
itu di saat yang bersamaan bunyi lonceng menggema di seluruh sudut restoran
yang tidak terlalu ramai itu.
Sebuah siulan dari arah kiri
menginterupsinya, reflek dia menolehkan kepalanya. Tidak lama kemudian senyum
tiga jari bertengger di bibirnya. Segera dia langkahkan kakinya ke arah meja
tersebut. Dia daratkan pantatnya di sebuah kursi depan temannya sekaligus rekan
kerjanya. Kemudian mata foxynya menatap laki-laki berwajah kekanakan di
hadapannya.
“Mau ku pesankan sesuatu?”
ucap laki-laki berwajah kekanakan dihadapannya itu yang langsung diangguki oleh
pria manis itu.
Pria kekanakan itu
menjetikkan jarinya saat seorang pelayan tanpa sengaja melihatnya. Dengan
segera pelayan itu berjalan menghampirinya sembari mengeluarkan buku kecil dan
bulpoin. Siapa tahu pelanggan restoran itu memesan makanan kembali.
“Ada yang bisa saya bantu
tuan?” kata pelayan itu sopan.
“Aku memesan satu porsi
Pasta dan satu gelas Strawberry lime.” kata laki-laki itu yang ditanggapi
dengan anggukan sang pelayan. Pelayan itu mengucapkan sekali lagi kemudian
berlalu setelah mengatakan kepada dua laki-laki tampan dan manis itu untuk
menunggu sebentar.
“Oh ya Min, kamu mau tidak
berkerja sama dengan sebuah perusahaan besar?” kata laki-laki betampang
kekanakan itu kepada temannya.
Mendengar kata kerja sama
pria manis itu langsung antusias. Namun sebuah rasa pesimis masuk dalam
benaknya, membuatnya takut jika hal ini tidak berjalan lancar lagi seperti
kejadian beberapa bulan lalu, untung saja perusahaan itu mau untuk membayar
rugi. “Tapi bagaimana dengan perusahaan itu sendiri, apa mereka mau?”
“Soal itu biar aku yang
mengaturnya dan sekarang aku minta jawabanmu untuk tawaran ini. Toh jika kau
bekerja sama dengan sebuah perusahaan besar dan berhasil otomatis omset perusahaanmu
bertambah dan membaik seperti dahulu.” kata pria itu dengan mimik muka santai.
“Tentu saja aku mau.”
ucapnya cukup yakin membuat lengkungan bibir ke atas tercipta di bibir tipis
pria di hadapannya.
“Hari sabtu kamu tidak ada
acara, kan?” tanya laki-laki berwajah kekanakan itu.
“Tidak ada.” jawabnya.
“Kalau begitu hari sabtu di
restoran ini jam 10.00 pertemuan itu akan dilakukan, jangan lupa.” katanya
tanpa persetujuan dari teman sekaligus atasannya itu.
“Oke.” katanya.
Namun mendadak pria manis itu
tersentak ketika dia teringat sesuatu pada hari Sabtu mendatang. Dia membuka
bibirnya bermaksud menolak pertemuan itu, tetapi belum sempat dia mengeluarkan
sepatah katapun. Bibirnya kembali tertutup ketika aroma makanan sedap menyapa
hidungnya membuat perutnya meraung-raung minta diisi.
.
.
.
Matahari menerobos masuk
lewat jendela besar di sebuah kamar yang gordennya sudah tersibak penuh.
Membuat seorang pria yang sedang bergumul selimut itu mengerang tidak nyaman.
Dia bangun dari tidurnya dan duduk bersila di tempat tidurnya. Masih dengan
mata tertutup dia merenggakan otot pinggangnya ke kanan dan ke kiri hingga
terdengar bunyi gemeretak tulang sendi. Pasti tidurnya kemarin sangat nyenyak
hingga membuat otot pinggangnya terasa kaku.
Setelah itu dia mengerjapkan
kedua matanya lalu bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi yang tidak
jauh dari tempat tidurnya. Pintu kamar mandi itu tertutup kemudian terdengar
suara air yang mengucur deras dari shower.
Dua puluh menit kemudian
pria itu keluar dengan bathrobe yang membaluti tubuhnya serta handuk yang
melingkar di lehernya. Dia mengeringkan rambutnya sambil melangkah menuju
sebuah meja yang di atasnya sudah tersaji satu cup cappucino serta sepiring
sandwich. Dia ambil gelas itu sebelum menyabar sandwich dan berjalan menuju
balkon kamarnya. Menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di sabtu pagi.
Rumahnya yang terletak di
pinggir kota Seoul itu menguntungkan untuknya, selain lahan yang luas terdepat
pula pemandangan yang menyejukan mata. Membuat orang-orang penghuni rumah ini
betah untuk tinggal lebih lama.
Cho Kyuhyun, namja tampan
itu menyeruput cappucinnonya perlahan, merasakan rasa pahit bercampur manis
yang mengecap di lidahnya. Kemudian mulutnya langsung melahap sandwich di
tangan kirinya. Setelah selesai dia meletakkan kembali gelas itu kemudian
berjalan menuju meja nakasnya mengambil handphone touchsreen warna hitamnya.
Sedetik kemudian jemarinya telah menari diatas handphone touchscreen itu.
Matanya terpaku pada satu agenda hari ini:
10:00 Donghae Hyung.
Tanpa perlu melihat isi
agenda itu ia segera menuju lemari besarnya menyambar kemeja putih serta jas
dan celana kemudian berjalan ke sebuah sekat. Setelah berganti pakaian dia
mengambil jam tangan warna hitamnya yang terlihat elegan dan terkesan mahal.
Mata tajamnya melirik
sekilas jam tangan itu yang menunjukan jam 09:00. Jalan menuju ke tempat
pertemuan itu dari rumahnya memakan waktu satu jam perjalanan jika jalanan
protokol tidak penuh dengan kendaraan. Hari ini hari Sabtu. Weekend. Jadi bisa
dipastikan jalanan tidak akan dipenuhi oleh kendaraan pribadi.
Saat kakinya menginjak anak
tangga terakhir sebuah suara serak menginterupsinya. “Ini tuan kunci mobilnya.”
dia menoleh dan mendapati seorang pria tua namun berbadan tegap sedang
membungkuk ke arahnya sambil menyerahkan sebuah kunci mobil, pria tua itu
kepala pelayan di rumahnya yang telah mengabdikan dirinya sejak orangtuanya
masih berada disini. Dia tersenyum tipis dan mengambil kunci tersebut. “Terima
kasih Hwang Ajhussi.”
Kepala pelayan itu menegakan
badannya dan tersenyum ramah sambil melihat punggung tegap dan bidang milik
sang anak majikannya yang menghilang di balik pintu berpelitur tersebut.
.
.
.
.
.
Cahaya matahari terlalu
terang membuat Sungmin menyipitkan matanya untuk melihat apa yang ada di
hadapannya ini. Pasalnya dia merasakan hawa sejuk, tentram, damai dan semilir
angin yang tertiup sepoi-sepoi. Saat pandangannya mulai membaik tiba-tiba dia
mersakan sebuah tangan kekar memeluk lehernya dan pinggangnya.
“Menurutmu tempat ini bagaimana
Ming?” suara bass milik si tangan kekar yang memeluk lehernya dan pinggangnya
itu berucap lirih di telinganya menimbulkan nafas yang membuat Sungmin jadi
geli. Dia pertajamkan matanya, kemudian terlihatlah sebuah hamparan rumput
hijau serta bunga-bunga yang cukup indah dan jangan lupakan ornamen-ornamen
yang menambah kesan indah untuk tempat ini.
“Menajubkan.” ucapnya tanpa
rasa takut sedikitpun. Entahlah, dia merasa sangat nyaman dalam pelukan namja
itu yang begitu posesif. Kemudian dia merasakan sebuah benda lembut mengecup
pipi chubbynya reflek dia memejamkan matanya. Merasakan kecupan-kecupan yang
menghujam pipinya itu terus-menerus.
Semakin lama ciuman itu
mengarah pada leher belakangnya, titik tersensitifnya. Dia menggigit bibirnya,
menahan desahan yang akan mungkin keluar. Namun kecupan itu berhenti, Sungmin
berbalik dan memandang pria yang ternyata jauh lebih tinggi darinya itu. Cahaya
matahari itu membuatnya silau, jadi dia tidak dapat melihat dengan jelas pria
itu. Tetapi mata foxynya dapat menangkap senyum manis yang terwujud dari bibir
tebal pria itu.
Dia menjijitkan kakinya,
bermaksud mencium bibir tebal itu. Tetapi sebuah suara memekikan telinga
mengganggunya.
“Aissh, suara apa itu.”
katanya dengan nada kesal. Dia mengerucutkan bibirnya dan mencari asal suara
itu, kemudian mematikannya. Tak tahukah bahwa itu mengganggu moment
romantisnya.
KRRRIIIIINNNNGGGG
Bunyi itu semakin nyaring
menimbulkan bunyi 'nggiiing' di telinganya. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Hey
kemana perginya tempat itu dan pria yang tersenyum manis tadi juga kemana?
Kenapa gelap. Tapi kenapa bunyi itu tidak hilang?. Ah, iya seakan baru ingat
bahwa bunyi itu bersal dari jam bekernya.
Dia bangun tiba-tiba lalu
tangannya menuju meja nakas menggapai jam beker. Setelah berhasil mendapatkannya
tanganya reflek melempar jam beker itu ke dinding, tanpa peduli dengan nasib
jam bekernya, dia kembali meringkuk dalam selimut. Masuk ke dalam mimpinya yang
sempat hilang tadi.
Namun belum ada satu jam
tiba-tiba nada dering ponselnya berbunyi nyaring, membuat bibir plum itu
menyuarakan umpatan. Apa tidak ada yang mengerti, dia ingin istirahat hari ini
dan ingin hanya tidur sampai nanti sore. Tangannya meraba meja nakas kembali,
kemudian menyambar handphonenya. Tanpa melihat siapa yang menelpon jemarinya
langsung menekan tombol hijau.
“Yobosseyo.” katanya dengan
mata tertutup.
“Min apa kau lupa hari ini
kita ada janjian!” semprot si penelpon yang langsung menerpa gendang
telinganya.
“Janji??” kata Sungmin
sembari membuka kedua matanya dan mengerutkan kening. Memaksa otaknya kembali
mengingat apa dia mempunyai janji. Seketika kemudian mata foxynya membulat
penuh, dia bangun dari tidurnya lalu melihat jam dinding kamarnya.
Tanpa memutuskan telepon itu
dan membiarkan suara diseberang sana memanggilnya berkali-kali. Dia langsung
berlari ke arah kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar
mandi dengan bertelanjang dada dan dengan handuk yang menutupi pinggang hingga
lututnya. Dan melangkah menuju lemarinya, menyambar baju pink serta celana dan
jaket rompi warna putih.
Dia keluar dari
apartementnya dengan tergesa-tergesa untung dia memakai sepatu snekers tanpa
tali jadi tidak perlu repot-repot untuk membuat simpul tali. Aissh, bagaimana
dia bisa lupa. Pasti sahabatnya itu akan mengoceh tidak jelas padanya.
Dia masuk ke dalam mobil
warna pinknya yang ia parkir di area basement gedung apartemen tersebut. Lalu
dalam jangka waktu lima belas menit dia sudah sampai ditempat tujuan. Beruntung
apartemennya terletak di lokasi strategis, hingga tidak akan memakan banyak
waktu.
KLING
Bunyi lonceng menyapa
gendang telinganya ketika dia membuka pintu restorant itu. Dia memandang
seluruh isi restoran dan tersenyum saat matanya melihat temannya tengah
melambaikan tangan ke arahnya.
Dia langkahkan kakinya menuju
ke arah temannya, namun alisnya menyatu ketika dia melihat punggung tegap nan
bidang yang memunggunginya. 'Apa dia yang akan bekerja sama dengan perusahaan
ku?'.
“Min perkenalkan dia yang
akan bekerja sama dengan perusahaanmu.” sebuah suara membangunkannya dari
lamunan tidak penting. Dia menatap temannya yang juga tengah memandangnya
dengan bingung, sebut saja Lee Donghae.
Kemudian dia mengalihkan
pandangannya, menatap sesosok pria yang memakai setelan jas dihadapannya. Satu
kata untuk pria di hadapannya ini, tampan. Eh? Apa yang ia pikirkan.dia
menggelengkan kepalanya.
Dia menatap kembali pria
bersurai coklat dan lebih tinggi darinya itu. Seulas senyum membentuk di bibir
plumnya, “Lee Sungmin.” ucapnya ramah sembari mengulurkan tangannya. Pria itu
menyambutnya dan juga menyunggikan senyumnya yang entah kenapa senyum itu
membuat Sungmin teringat pria di mimpinya.
“Cho Kyuhyun.”
To Be Continued.....
To Be Continued.....
No comments:
Post a Comment